Selamat Ulang Tahun ke 25 MK Al Mukarramah.
Terima kasih kepada seluruh tamu undangan dari para Tokoh pimpinan Partai politik di Indonesia, para pengusaha, Pejabat Nasional dan Daerah dan seluruh tokoh masyarakat, ulama/kyai dari berbagai pondok pesantren Ahlus sunnah wal jamaah di seluruh Indonesia yang telah hadir pada perayaan Perak MK Al Mukarramah di Stadion GOR Padjajaran, BOGOR, 25 April 2009.
DIRGAHAYU MK AL MUKARRAMAH, SEMOGA SEMAKIN JAYA!!!
25 TAHUN MENGABDI UNTUK BANGSA DAN NEGARA.
Selengkapnya...
MOTTO PERGURUAN MK AL MUKARRAMAH «- Rodhitu billahi robban -» (Aku ridho Allah sebagai Tuhanku) «- Wabil Islaami diinan -» (Dan aku ridho Islam sebagai Agamaku) «- Wabi Muhammadin nabiyyan warrosuulan -» (Dan aku ridho Muhammad sebagai Nabi dan Rasulku)
Senin, 27 April 2009
DIRGAHAYU PERAYAAN PERAK MK AL MUKARRAMAH
Senin, 16 Februari 2009
HAKIKAT REFORMASI
HAKIKAT REFORMASI
oleh: Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy'ari
Guru Besar Perguruan MK Al Mukarramah
Seluruh bentuk adalah simbol, sebagaimana pandangan ahli makrifat, yang dengan jelas menyingkapkan makna yang ada didalamnya. Tiada yang pernah dapat mengetahui secara pasti apakah seseorang itu hanya berada pada tingkat bentuk dan melupakan maknanya. Karena inilah ada kecenderungan atas diri manusia untuk merubah setiap bentuk yang ada, hanya agar dapat mengetahui apa dan bagaimana makna dari bentuk itu sendiri jika terjadi suatu perubahan atas bentuk tersebut, seperti halnya perubahan bentuk (reformasi) yang terjadi di negeri ini.
Sebuah analisis telah mengungkapkan bahwa keinginan seseorang untuk mengubah gaya hidupnya dan merubah jalan dan garis nasibnya adalah sesuatu hal yang wajar dan manusiawi yang sekaligus merupakan fithrahnya sendiri. Tidak ada larangan bagi manusia untuk merubah nasib dan jalan hidupnya. Manusia berhak untuk hidup makmur, bahagia, dan sejahtera. Firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an menyebutkan ;
" Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri ". (QS.13 : 11).
Merubah sesuatu bentuk menjadi bentuk yang lain boleh saja, asalkan kita tahu dan yakin, bahwa apa yang kita rubah itu akan membawa kemanfaatan bagi seluruh lapisan masyarakat luas, dan bukan hanya bermanfaat bagi segolongan masyarakat saja.
Suatu perubahan yang bertujuan untuk mengangkat kemiskinan suatu bangsa agar menjadi jaya dan makmur adalah merupakan tugas suci dan mulia jika dilandasi kejujuran dan keikhlasan hati. “ Karena sesungguhnya jujur itu menimbulkan ketenangan dan dusta itu menimbulkan keresahan “.
Suatu perubahan yang bertujuan untuk menegakkan perikemanusiaan dan keadilan atas suatu bangsa adalah merupakan perbuatan yang berani dan terpuji, jika dilandasi kasih sayang dan kebajikan yang luhur. Karena perbuatan dapat dikatakan benar jika tidak ada pamrih didalamnya.
Akan tetapi sangat disayangkan sekali, pada era reformasi ini masih saja banyak tangan-tangan yang berbuat nista demi mencari keuntungan pribadi, mencari kesempatan didalam kesempitan yang semakin marak, penonjolan diri kian terlihat jelas.
Pemanfaatan situasi pun semakin dipergencar, kebodohan dan kepalsuan makin melebar saja. Rasa saling curiga mencurigai dan fitnah serta isu-isu yang tidak jelas menjalar bagaikan wabah virus, jilat sana jilat sini… sikut sana sikut sini.. , hujat sana hujat sini. Karena masing-masing ingin menyelamatkan dirinya, dan merasa paling benar, paling hebat, paling pandai, paling bersih, dan terkemuka di mata manusia lainnya.
Kondisi seperti inikah yang akan kita berikan pada bangsa kita ….?!, kondisi seperti inikah yang akan kita perlihatkan pada dunia….?! Tidak ada larangan atas manusia untuk melangkah, akan tetapi iapun harus tahu dimana ia harus berhenti.
Tidak ada yang dinamakan tingkah laku baik dan terpuji, kecuali yang adil, seimbang diantara semua keadaan dan dapat meletakkan neraca diantara kekuatan hati - kemauan yang berkobar.
" Rasa keadilan sejati itu terletak dilubuk hati yang paling dalam ".
Dan tidak ada yang mempunyai kelakuan mulia, kecuali seseorang yang dapat mengendalikan nafsu ambisi pribadinya.
Fakta dan sejarah sudah mencatat bahwa sebagian besar manusia perhatiannya sangat tertarik pada larangan, karena enggan melakukan yang disuruh Tuhan. Sangat terpengaruh kepada harta benda kekayaan duniawi, sebab mengabaikan kebutuhan rohani. Nekad melakukan yang buruk lagi tercela karena tergoda oleh setan dan manusia yang durhaka ingkar kepada petunjuk Al-Khaliq lalu melibatkan diri kedalam syirik, berbicara seperti orang latah, karena lidah tidak disesuaikan dengan isi kitab Allah dan Sunnah Nabi. Kurang rasa malu, sebab iman tidak bersinar dalam kalbu, suka melanggar peraturan tanda kelemahan iman didalam dada.
Maka dengan suri tauladan Nabi Saw yang memberi tuntunan kejalan sebaik-baiknya dan mendapatkan suatu petunjuk yang sanggup membawa manusia kepada hati suci, jiwa bersih dan rohani tinggi, serta citra yang luhur.
Demikianlah seseorang harus bersifat yang terpuji, yaitu : keras kemauan, berani, tahu berterima kasih, suka bertawakal kepada Allah Swt, ridha dengan taqdir yang menimpa dirinya, sabar atas segala ujian dan cobaan, suka berkorban dan merasa puas dengan nikmat yang Allah berikan kepadanya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah, yang kamu dustakan …?!!.
" (Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tangan kamu sendiri, maka bahwasannya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tiada menghendaki kesukaran".
(Q.S. : 2 : 182-185)
Selengkapnya...
Selasa, 09 Desember 2008
Wise words to know...
Kaum kebatinan senantiasa
Memandang kejadian dunia
Ini sama saja,
Baik keuntungan
Atau kerugian
Baik kebahagiaan
Maupun kesusahan
Semuanya diterima dengan
Perasaan puas dan ikhlas.
maka pada umumnya
mereka hidup lebih tentram
dan bebas dari segala pengaruh,
yang mengganggu perasaan.
oleh: Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy'ari
Guru Besar MK Al Mukarramah
Selengkapnya...
MUSIK DALAM KOSMOLOGI ISLAM
MUSIK DALAM KOSMOLOGI ISLAM
oleh: Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy'ari
Guru Besar Perguruan MK Al Mukarramah
Dalam dunia saat ini, ketika dari hari ke hari semakin sulit memasuki spiritualitas sejati dan keindahan yang terdapat dimana-mana telah dianggap sebagai barang mewah, maka musik bernilai sangat tinggi, bagaikan sebuah perlindungan diantara tandusnya gurun pasir.
Dari jaman dahulu sampai kini banyak orang tertarik kepada musik, sekalipun tidak mengetahui alasan-alasannya. Pada dasarnya mereka tengah mencari kehidupan spiritual serta ketenangan dan kedamaian yang tersembunyi dalam substansi musik yang bersifat spiritual.
Mereka tengah mencari rahasia perjanjian primordial antara manusia dan Tuhan, dengan selubung melodi, keindahan yang menarik bagi mereka
“Irama musik yang bentuk penampakan luarnya terlihat sedih tak lain merupakan prawacana untuk ketakterlukiskan kebahagiaan yang tersembunyi didalamnya”
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
Ada berbagai cara pendakian spiritual yang dapat dilaksanakan dengan bantuan musik.
Cara pertama dicapai melalui alunan melodi, yang membawa manusia selangkah demi selangkah menuju tingkatan spiritual satu demi satu dan akhirnya mencapai tingkat kebahagian dan ekstase spiritual.
Meskipun tradisi musik bersumber dari peradaban kuno, namun semua terpadu utuh dalam semesta Islami, dan menjadi jantung seni Islam yang didukung oleh kebijaksanaan para khalifah dan sultan.
Islam menjadikan musik sebagai sarana untuk pendakian jiwa menuju dunia transenden, meski hanya bagi mereka yang telah melewati rintangan kezuhudan dan disiplin spiritual yang tingkatan pertamanya adalah kepatuhan dan harapan kepada Tuhan.
Dengan alasan yang sama mereka yang menikmati musik tanpa melewati tingkatan pertama dalam perjalanan spiritualnya, maka tak akan pernah sampai kepermukaan dunia transenden yang luas tiada batas, dan apabila jiwa mereka mencoba melakukan penerbangan ke Dunia tersebut meski hanya untuk sesaat dengan bantuan musik surgawi ini, maka dia dengan segera akan jatuh kembali begitu musik berakhir dan mereka tidak akan mampu mempertahankan keadaan spiritualnya.
Meski demikian, karena perasaan batinnya telah sadar dapat dikatakan bahwa dia terus menerus berada dalam keadaan mendengarkan konser musik spiritual dan baginya alam semesta merupakan nyanyian abadi.
Sistemnya dimulai dengan nada-nada dasar khusus yang prinsip dan melodinya selalu kembali ke nada dasar itu tanpa pernah meninggalkan pusat sepanjang permainannya.
“Islam menjadikan musik sebagai sarana untuk pendakian jiwa menuju dunia transenden yang merupakan gema Surga dan menyatukan kenikmatan inderawi dengan kepertapaan sebuah dunia lain dengan keindahan disini dan kini”.
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
Oleh karena itu, menikmati musik secara total berarti kehidupan di alam suara dengan komposisi musik yang mengarahkan pendengarannya ke sebuah pusat.
Suatu pencapaian ke pusat yang tak mungkin teraih tanpa pendakian spiritual dalam aspek musikal-nya. Cara lain untuk mencapai tujuan ini melalui irama dan tempo musik, yang mengubah hubungan antara manusia dan tempo biasa - ciri paling khas dari dunia ini.
TANGGA NADA - NADA JIWA PEMUSIK
Dalam musik, nada-nada mempunyai kekuatan denotasi dan konotasi, serta memiliki kekuatan sugesti dan penyadaran tentang pengetahuan intuitif yang ada dalam jiwa untuk menuju dunia imajinal (alam Al’Khayali).
Oleh karena itu nada-nada yang baik dan benar akan mempengaruhi pengakuan jiwa manusia terhadap adanya keindahan yang harmoni dan kebenaran yang hakiki.
“Tangga nada dalam musikal surgawi akan melingkupi delapan penjuru arah mata angin, yang setiap arahnya memasuki dimensi Alam yang transenden di saat jiwa seseorang dalam keadaan kosong dari segala
sesuatu selain Allah”.
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
Arah makrokosmos yang menaungi mikrokosmos yang merupakan delapan kutub-kutub spiritual yang menyala laksana norma dan teladan-teladan yang hidup dan menjadi perhatian para pencari kebenaran dalam jiwa para pemusiknya, tentang adanya lanskap alam ruh .
Tangga-tangga nada itu terdiri dari nada : DO (dlad), RE (ra), MI (mim), FA (fa), SOL (shad), LA (lam), SI (sin), DO (dlad).
Nada DO (dlad) awal, merupakan nada yang mendasari keseluruhan nada-nada yang ada, bagaikan tunas melodi yang membawa manusia selangkah demi selangkah menuju tingkatan spiritual.
Nada DO (dlad) akhir, untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagian ekstase spiritual. Kedelapan tangga-tangga nada tersebut laksana; Perjalanan jiwa yang melintasi delapan lembah Gaib pegunungan kosmik QAF yang pada puncaknya terletak penguasa angkasa.
“Pusat lembah Gaib Pegunungan Kosmik QAF merupakan permukaan langit yang tidak terhingga luasnya dan sekaligus merupakan prinsip generasi seluruh pegunungan kosmik yang ada dibawahnya”. (Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
Selain itu lembah Gaib tersebut merupakan titik dimana dua hal bertemu, yaitu: yang menciptakan dan tidak diciptakan.
1. Nada DO (dlad) awal identik dengan lembah Ruh-i Nathiqah (ruh rasional yang Gaib).
2. Nada RE (ra) identik dengan lembah Thalab (pencarian).
3. Nada MI (mim) identik dengan lembah Isyq (cinta).
4. Nada FA (fa) identik dengan lembah Ma’rifah (gnosis).
5. Nada SOL (shad) identik dengan lembah Istighna (kepuasan hati).
6. Nada LA (lam) identik dengan lembah Tauhid (ke-Esaan).
7. Nada SI (sin) identik dengan lembah Hayrat (kekaguman).
8. Nada DO (dlad) akhir identik dengan lembah Fana (lebur).
Akar setiap nada berasal dari dasar dunia kesunyian yang sangat luas, sebuah dunia yang berada dibalik setiap nada, sekalipun seluruh nada memperoleh eksistensinya dari kekuatan yang memberinya kehidupan (Al-Hayya), yang merupakan awal perjalanan setiap jiwa, yang terjadi secara terpisah sesuai dengan karakteristiknya yang melambangkan perbedaan nada dengan tipe manusia yang memainkannya.
Manusia sendiri berada diantara dua-dunia kesunyian, yang dalam hal tertentu berarti ganda (ambigu) dan tidak diketahuinya.
Yang pertama adalah: masa sebelum lahir, saat dimana ia mendengarkan alunan nyanyian alam rahim, yang kedua adalah masa kematian, saat ia mendengarkan alunan nyanyian dalam sekejap keterpisahannya dalam bentuk tangisan sesaat, yang secara tiba-tiba memecahkan kesunyian abadi sekedar untuk bersatu denganNya.
“Kehidupan manusia itupun sebenarnya tak lebih dari suara dan teriakan dipermukaan kesunyian abadi, yang paling gaduh diantara semua jenis musik.”
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
Kehidupan didunia akan berarti apabila bergabung dengan kesunyian itu dan mengubah kegaduhan serta kegemparan dunia eksternal menjadi nyanyian dunia yang memikat dimensi batin manusia, dan merupakan peningkatan yang membuatnya menjadi mungkin untuk mengenali lebih dekat dan menembus lebih dalam ke substansi Ilahi.
"Musik adalah kutub aktif kreasi Illahi melalui tangan-tangan para hambanya, yang merupakan buah visi spiritual, sehingga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan intelektual, dan juga untuk merangsang adanya transformasi kimiawi dalam jiwa manusia"
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
PENGARUH MUSIK ATAS PSIKOLOGIS MANUSIA
Musik berfungsi untuk menentramkan pikiran dari beban kemanusiaan (Basyariyyat) dan menghibur tabiat manusia. Ia merupakan stimulasi untuk melihat rahasia Ketuhanan (Asra-I Rabbani), karena ia tiada lain adalah logos yang mewujudkan seluruh kemungkinan pola dasar Ilahi yang tersembunyi didalam khazanah Gaib dengan terbitnya Al - Lawh Al - Mahfudz, bersama irama dan nada-nada yang merupakan pula paradigma seluruh bentuk duniawi yang universal dalam suatu alunan melodi musik suci dari para pecinta Tuhan yang memanggil mereka untuk kembali kesumbernya diharibaan Tuhan.
Musik bagi sementara orang merupakan godaan karena ketidaksempurnaan mereka. Bagi yang lain, yang telah mencapai kesempurnaan, musik merupakan peringatan (Ibrat).
Musik tidak diperuntukan bagi mereka yang masih berada pada tingkat dasar, apalagi yang hatinya beku, karena akan menyebabkan mereka hancur.
Namun bagi mereka yang hatinya gembira, tak perduli apakah mereka berhasil atau gagal dalam menemukan jiwa, ia perlu mendengarkan musik.
“Dalam musik terdapat ratusan ribu kegembiraan, yang salah satunya dapat membantu seseorang melintasi ribuan tahun perjalanan untuk mencapai ekstase kebahagiaan murni, yang tidak dapat dicapai oleh pendengar musik yang mencampur baurkan musik dengan melalui berbagai hal-hal yang memabukkan”
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
Sejauh menyangkut hawa nafsu, memang benar bahwa ketegangan nafsu diseluruh urat saraf menjadi reda setelah mendengarkan musik, dan seluruh urat saraf terisi oleh cahaya ketentraman sebagai mana yang diperoleh dari kesucian ibadah.
Manakala mendengarkan musik seseorang harus menyerahkan seluruh jiwanya kepada Tuhan agar terbebas dari HAWA NAFSU. Dan hal ini tidak akan dicapai, kecuali dengan tekad yang paling kuat menuju Yang Maha Pengasih.
Seseorang yang mendengarkan musik dengan irama dan nada yang sesuai dengan salah satu unsur dari delapan lembah Gaib pegunungan kosmik QAF maka ia seperti berada di hadapan Tuhan, di dalam Tuhan dan bersama Tuhan.
Seorang pemusik dan seseorang yang suka mendengarkan musik adalah salah satu dari sedikit orang yang mempunyai semacam kepekaan sensual terhadap keindahan spiritual.
Pandangan orang awam terhadap musik, ia akan melihat segala sesuatu itu tampak sebagai suatu bentuk transparan yang mencerminkan esensi abadi. Sedangkan pandangan seorang pemusik dan pendengar musik baginya eksistensi keindahan benar-benar sudah merupakan bukti adanya Tuhan.
“Bukankah Tuhan telah menggoreskan keindahan pada segala sesuatu ..?!.
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
Para menganut mahabbah (cinta) mendengarkan musik tanpa bantuan hawa nafsu mereka. Mereka menapak diatas jalan syawq (kerinduan). Mendengarkan musik tanpa bantuan akal budi.
Para pengikuti Isyq (gairah cinta) mendengarkan musik tanpa bantuan hati. Mereka yang digerakkan oleh kedekatan spiritual mendengarkan musik tanpa bantuan jiwa.
Apabila mereka mendengarkan musik dengan cara tersebut, maka mereka akan luput dari Tuhan, dan apabila mereka mendengarkannya dengan hawa nafsu, maka mereka akan menjadi orang yang Zindiq (tidak beriman), dan apabila mereka mendengarkannya dengan kekuatan Aql (akal), maka mereka akan menjadi orang-orang yang terpuji.
Apabila mereka mendengarkannya dengan Qalbu (hati), maka mereka akan menjadi seorang Murraqib (perenung), dan apabila mereka mendengarkannya dengan jiwa, maka mereka akan benar-benar hidup (hayya).
Musik adalah audisi dan visi dari kehadiran Tuhan (hudhur), dan ia (musik) merupakan keajaiban diatas keajaiban, karena kegembiraan setiap jiwa dalam mendengarkan musik dapat dinikmati sesuai dengan tingkat kesucian ruh (Ruh-I Muqaddas).
Bagaimanapun juga, tak seorang pun diantara mereka kecuali mereka yang mengembara di dunia Gnosis (ma’rifat), yang mampu menikmatinya. "BUKANKAH DI DALAM PESTA CINTA ILAHI PENDENGAR DAN PEMAIN ADALAH SATU…?!"
MUSIK UNTUK PENYEMBUHAN
(MUSIK THERAPY)
Seruling dan Harfa adalah dasar dari bentuk musik mistikal yang mengalunkan nada religius dalam bentuk irama yang tiada habisnya, serta tidak pernah berhenti merangsang ingatan (Tidzkar) akan tindak primordial dari tangan Ilahi.
Pandangan religius tentu saja juga menekankan dimensi batin agama, bila agama dipahami dalam pengertian universalnya, dan lain halnya dalam sudut pandang Syar’i, ia tidak sama dengan pandangan religius dalam Islam, melainkan hanya merupakan salah satu dari unsur-unsur delapan buah lembah Gaib pegunungan kosmik QAF yang sangat penting dan sangat diperlukannya.
Musik juga secara langsung berkarakter religius, meskipun dimensi esoteris dari agama lebih berperan dari pada dimensi esoterisnya.
Beberapa Tabib (dokter) muslim menggunakan musik sebagai sarana penyembuhan suatu penyakit, baik jasmani maupun rohani, dan yang melengkapi kepekaan tabib terhadap musik adalah ; kesadarannya akan kesucian dalam segala sesuatu dan kecakapannya memberi petunjuk sebagai solusi spiritual terhadap hampir setiap permasalahan yang dihadapi manusia dalam berbagai masa dan keadaan dengan suatu pendakian melalui kebenaran fenomenal naik ke esensi-esensi dan melodi-melodi keabadian.
Seorang tabib yang sudah mampu dan dapat menghayati hakikat rahasia yang tersembunyi dari suatu musik, maka dia akan mampu pula mengekpresikan kesempurnaan dan keragaman eksistensi manusia, sebagai cara untuk mengungkapkan fakta bahwa Di balik setiap pengalaman mungkin saja terdapat sebuah gapura menuju Yang Maha Gaib, yang hanya dimungkinkan oleh daya penglihatannya yang tajam terhadap realitas Surgawi dibalik bentuk keduniawian musiknya, yang mengalir laksana arus, sungai yang bermuara dari sumber air pegunungan rahasia Al’Quran.
Teraphy penyembuhan (pengobatan) seseorang melalui irama musik, haruslah disesuaikan dengan unsur bawaan lahir orang yang sakit tersebut, karena jika tidak maka akan dapat mengakibatkan penyakit yang diderita seseorang itu menjadi semakin parah.
Seperti misalnya; Seorang pemusik menciptakan nada dan irama yang kalem dan lembut yang identik dengan Isyq (cinta) dari salah satu nada MI (mim) yang dominan, dan ketika ia menciptakan irama musik tersebut dengan tanpa sepengetahuan dan dengan tanpa disadari oleh pemusik itu sendiri, maka Ada kemungkinan irama musik yang Ia ciptakan itu adalah bagian dari unsur bawaan lahir sang pemusik sendiri, apalagi irama musik tersebut sangat disukainya, dan selalu, melulu irama-irama musik yang kalem dan lembut yang selalu ia ciptakan.
Jika unsur bawaan lahir sang pencipta tadi kebetulan sama dengan unsur bawaan lahir pendengarnya, maka yang mendengarkanpun akan ada rasa ketertarikan yang kuat, seperti ada sesuatu yang menyentuh lembut dalam perasaan hatinya, si pendengar akan larut dan hanyut dalam alam imajinalnya, jiwanya akan menjadi tentram tenang dan damai.
Unsur bawaan lahirpun harus ditunjang rasa dan hati yang sedang bahagia ketika ia mendengarkan irama musik yang identik dengan gairah Isyq (cinta) dengan nada MI (mim), karena jika hati si pendengar dalam keadaan menderita, irama musik yang lembut dan kalem itu akan dapat meruntuhkan jiwanya dan dapat menimbulkan iba diri yang amat sangat, yang pada akhirnya unsur bawaan lahir yang ia miliki, akan terdesak jauh ke dalam, karena nada DO (dlad) akhir yang identik dengan lembah Fana (lebur) itu akan berusaha meracuni dirinya secara perlahan-lahan dengan lambat tapi pasti, yang diawali dengan alam khayalnya, yang terlintasi kenangan-kenangan pahit yang meremuk redamkan hatinya.
Kejadian seperti inilah yang sering kali dialami pendengar musik dan adakalanya tidak menyukai jenis musik tertentu pula, dan adakalanya seorang itu menyukai jenis musik tertentu, dengan tanpa disadarinya ia telah berusaha untuk menemukan jati diri melalui irama musik yang tertuntun, oleh unsur primordial (fithrah) bawaan lahirnya.
“Telinga laksana gita yang digubah dari nada-nada yang harmonis, sebuah komposisi yang melodinya dapat membimbing pendengarnya memasuki keadaan yang dia alami. Telinga seseorang berperan aktif dalam proses transformasi irama musik menuju arus jiwa.”
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
Manusia bisa mendengar ketika gelombang suara (bunyi) masuk ke liang pendengaran dan menggetarkan gendang telinga, sehingga tulang osikel turut bergetar, kemudian getaran diteruskan ke tingkat oval dan menggerakkan cairan koklea.
Aliran cairan akan menggerakkan sel reseptor organ korti. Sel reseptor yang berhubungan dengan serat saraf mengubah gerakan menjadi impulse dan dibawa ke otak oleh saraf pendengaran.
Sedangkan sel reseptor pada bagian koklea memiliki kepekaan terhadap frekuensi suara (bunyi) dan tinggi nada yang berbeda, lalu otak menginterpretasikan sinyal pada bagian yang berbeda itu.
Tinggi rendahnya suara musik (bunyi) dalam pendengaran manusia, tergantung pada banyaknya sel penerima yang mengirim impulse ke otak, maka semakin kuat gelombang suara (bunyi) akan semakin banyak pula sel reseptor yang bergerak. Semua rangsang, baik yang berasal dari luar dan dari dalam di deteksi oleh sel reseptor, lalu diubah menjadi impulse saraf.
Impulse dihantarkan di sepanjang saraf sensoris dan diubah menjadi rasa di Pusat saraf, kemudian timbullah tanggapan atau respon, baik secara sadar atau tidak, respon inilah yang akan menerima langsung berbagai bentuk irama musik menuju arus jiwa para pendengarnya dan merasakan rahasia misteri yang terdalam dibalik tabir irama musik serta yang mewakili salah satu aspek seni Islam yang sangat resensial dalam hubungannya dengan spiritualitas.
Musik merupakan rambu di jalan (thariqah) menuju Tuhan, dan hanya orang yang sudi melaksanakan disiplin yang wajib melintasi jalan ini dan berhak mendengarkan musik ini.
Islam melarang musik dijadikan frofanasi yang tereksteralisasi. Sementara di tingkat eksoteris ia tetap dibatasi hanya untuk saat dan keadaan tertentu.
Sebagaimana telah disebutkan bahwa musik dengan tegas dibatasi oleh peraturan untuk menjaganya dari pembangkitan nafsu-nafsu hewani secara eksoteris.
Musik menjadi sarana dalam mengubah perasaan dan jiwa terkecuali ketika musik dimainkan dibawah kondisi yang menjamin penundukan hawa nafsu sebelum pengaruh musik masuk dalam diri pendengar.
Karena seorang pendengar musik sejati telah mampu menguak selubung keterpisahan eksistensi dan bersatu dengan asal, serta sifat primordialnya, maka dia sebagaimana dunia, menggemakan sebuah melodi yang semirip mungkin dengan apa yang dia kehendaki.
“Diri manusia hanyalah merupakan alat musik yang berada dalam genggaman Tuhan” .
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
Karena musik ini merupakan nyanyian abadi dalam dunia ruang dan waktu, ia tidaklah mengalami proses kemunduran atau perubahan. Ia selalu sejuk menyejukan, dan segar menyegarkan laksana mentari di pagi hari, dan sekaligus merupakan sarana untuk membuka penglihatan dan pendengaran kita.
Sehingga dengan bantuan melodi-melodinya, dan tentu saja dengan pertolongan Tuhan, kita dapat melepas diri dari kematian yang secara palsu disebut kehidupan., dan mencapai kehidupan sesungguhnya yang diketahui tiada akhirnya.
Oleh karena itu, menikmati musik secara total berarti kehidupan di alam suara, dengan komposisi musik yang mengarahkan pendengarnya ke sebuah pusat.
“Suatu pencapaian ke pusat yang tidak mungkin teraih tanpa pendakian spiritual dalam aspek musikal-nya”.
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
Cara lain untuk mencapai tujuan ini melalui irama dan tempo musik, yang mengubah tempo biasa, yang merupakan ciri paling khas dari kehidupan dunia ini.
Dengan seluruh pertimbangan diatas mungkin timbul pertanyaan mengapa banyak orang, tidak hanya para orientalis tetapi juga beberapa muslim modern, menegaskan bahwa musik adalah dilarang atau haram.
Apakah dasar hukum Islam yang dipakai dan manakah bukti larangan atas musik seandainya memang adanya larangan seperti itu. Bagian musik yang mana dan jenis musik apa yang dilarang oleh ketentuan syari’ah….?!.
Masalah ini telah diperdebatkan oleh para ahli hukum dan teologi terkemuka Islam. Persoalan tentang signifikan serta legimitasi musik dalam keseluruhan struktur tradisi Islam, bagaimanapun juga bukanlah bersifat yuridis (fiqhiyyah) dan teologis semata. Hal itu mencakup seluruh aspek batin dan spiritual Islam.
Islam sebagai tradisi yang integral, tidak dapat pasti mengakui kenyataan ini, dan memberikan kemungkinan bagi mereka yang memenuhi kualifikasi tertentu untuk mendengarkan musik dari qalbu keberadaan mereka sendiri yang dipetik oleh jemari Tuhan.
" Musik.! bentuk dan warnanya bukanlah sekedar aspek-aspek dari realitas dunia material, melainkan juga memiliki makna universal untuk tingkatan dari hirarki eksistensi alam semesta dan mempunyai prinsipnya sekalipun didalam realitas metakosmik."
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
Musik adalah suatu kreasi dan seni yang sudah berumur sangat tua sekali dan tertulis dalam naskah-naskah kuno. Ia merupakan sebuah ibarat untuk pengetahuan Tuhan yang sintetis yang terkandung didalam ke Esaan yang meliputi; yang banyak (Ahadiyyat-I dzatiyya-yi jam’iyyah )
Hanya seseorang yang mempunyai hubungan bathin dan menyrahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan, maka ia akan menjadikan dirinya sebagai petikan suara harfa (Lyre) ditangan Tuhan Yang Maha Artis, dengan menyadari sepenuhnya akan pernyataan Al-Qur’an bahwa: Tangan Allah diatas tangan mereka. (QS.48:10).
Dan orang suci yang dirinya menjadi bagian dari instrument irama musik yang melaluinya, Tuhan Yang Maha Mendengar akan menghasilkan melodi-melodi eksistensi alam semesta. Sementara dirinya juga menjadi alat musik yang dengannya Tuhan mewujudkan tindakan-tindakan Nya pada makhluk ciptaan Nya.
Dalam satu riwayat diceritakan mengenai Nabi Adam AS (Abul Basyar) yang sendirian di Surga atau Firdaus, dan menjadi bosan (jenuh) karena tak ada seorangpun yang menemaninya. Disaat ia sedang termenung, tiba-tiba terdengar olehnya suara kicauan sepasang burung Nuri, lalu Nabi Adam AS memperhatikan sepasang burung Nuri yang sedang memadu kasih diatas ranting pohon khandalag yang tumbuh di Surga, ia tersenyum dan di hatinya, Seandainya Aku memiliki seorang kekasih seperti sepasang burung itu betapa bahagianya aku. Ketika Nabi Adam AS tenggelam dalam lamunannya, terdengar sayup-sayup olehnya yakni, Alunan kidung surgawi, ia begitu hanyut dan terbuai. Tanpa terasa ia merebahkan tubuhnya dan tertidur pulas. Didalam tidurnya ia bermimpi indah, mimpi berkasih mesra dengan seorang wanita nan cantik jelita.
Disaat Nabi Adam AS tertidur dan bermimpi indah itulah Allah Ta’ala mengambil salah satu tulang rusuk (Shulbi) nya, dan darinyalah Allah ciptakan manusia dalam bentuk seorang wanita yang sangat cantik jelita dan diberi nama Hawa, maka tatkala Nabi Adam AS terjaga dari tidurnya, ia dapati wanita cantik yang ada didalam mimpinya itu, kini duduk bersimpuh disampingnya, sambil memandang dirinya dengan penuh cinta kasih.
Nabi Adam AS terpesona dibuatnya, dan benih-benih rasa kasih dan sayang tumbuh disaat itu juga, lalu dengan serta merta ia menubruk dan mendekap wanita cantik itu dan berniat ingin menciumnya, akan tetapi niatnya ia urungkan, karena mendengar suara; Hai Adam ia belum Aku halalkan bagimu. Akhirnya Allah SWT Menikahkan Nabi Adam AS dengan Hawa (Siti Hawa), dan surga Firdaus menjadi ramai dan meriah sekali, karena para malaikat Muqorobbin, malaikat Kurubiyyin, malaikat Kiraman Katibin, malaikat Arsyi dan para malaikat Hafadzhah berdatangan untuk memberikan selamat kepada Nabi Adam AS dan Siti Hawa atas pernikahan mereka.
Dan suara dari konser musik surgawi menggema didalamnya, mengiringi pernikahan suci mereka berdua dan membuat keduanya terdampar dan pecah di pantai keabadian.
Peristiwa pernikahan Nabi Adam AS dengan Siti Hawa dan menggemanya untuk pertama kali suara konser musik Surgawi adalah sebuah fenomena yang dikemudian hari berhubungan secara langsung dengan reaksi hati dan jiwa masyarakat yang dipersiapkan untuk membentuk Ummat Islam dalam menyambut kehadiran Firman Tuhan yang diungkapkan dalam Al-Qur’an melalui pewahyuan yang merupakan seni suara, namun pengejawantaan duniawinya secara pasti menciptakan salah satu tradisi yang luar biasa dari seni suara dan seni musik sebagai getaran, dan gema dari realitas transenden.
“Musik yang baik adalah jika dimainkan dibawah kondisi yang menjamin hawa nafsu sebelum pengaruh musik itu memasuki telinga pendengarnya.”
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
Permasalahan tentang signifikasi serta legimitasi musik dalam keseluruhan struktur tradisi Islam, bagaimanapun juga bukanlah bersifat fiqhiyyah (Yuridis) dan teologis semata, melainkan mencakup seluruh aspek bathin dan spiritual Islam itu sendiri, karena peradaban Islam tidaklah mempertahankan dan mengembangkan beberapa tradisi musikal utama.
Islam mencegah kreasi musik yang mengalami pemujian dan tanpa adanya penyusutan terlebih dahulu yang harus dilaluinya dalam proses realisasi spiritual, karena hal itu akan menyebabkan kelalaian terhadap Tuhan. Maka sangatlah wajar jika Islam melarang seseorang untuk tidak mendengarkan musik yang akan mengalihkan pikirannya dari dunia spiritual dan menyebabkan cinta akan duniawi yang berlebihan, akan tetapi sebaliknya, Islam mempertahankan keagungan musik dan seluruh aspeknya yang dapat menenangkan pikiran seluruh hamba-Nya.
“Mempelajari dunia Islam dalam berbagai fase sejarahnya, akan menyadari kehadiran musik dalam berbagai aspek tradisi yang sangat fundamental.”
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
Sesungguhnya irama musik berasal dari keheningan dalam keindahan yang memabukkan dan dari percakapan (Khathab) cinta Ilahi, karena ia merupakan ke ajaiban diatas ke ajaiban yang menapak diatas jalan kerinduan (Syawq). Musik dan beragam iramanya ibarat daun surgawi yang terhempas dalam gairah cinta (Isyq).
Dan Jika salah satu dari daun surgawi itu menyentuh jiwa para pendengarnya, maka jiwa mereka terasa akan meninggalkan tubuh diluar kehendak mereka, dan lebur dalam Baqa dengan melintasi alam keabadian.
“Sayap-sayap burung jiwa yang bercahaya akan berterbangan melintasi fajar persatuan di atap keagungan dan mendendangkan lagu keabadian dengan nada-nada tak tercipta dihadapan Kilasan dan pancaran cahaya Tuhan.”
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
Orang Islam mulai menaruh perhatian pada musik secara serius pada abad ketiga Hijriah (abad 9 Masehi). Dan ini merupakan satu konsekwensi penting dari pengukuhan kebenaran sentral yang menjadi induk dari tangga-tangga nada yang dikenal dan digunakan dikemudian harinya. Semangat seniman musik muslim pada kenyataannya mengalir dari kesadaran mereka akan Alam semesta yang saling berkaitan dalam jaringan kesatuan Alam melalui hukum-hukum kosmis yang mengatur mereka, karena pada waktu itupun mereka telah memiliki sikap ilmiah dan kerangka berfikir ilmiah pula.
Semangat untuk mencari kebenaran dan obyektivitas dari seni musik merupakan sebuah penghormatan pada bukti empiris yang memiliki dasar yang kuat, dan pikiran yang terampil dalam pengklasifikasian irama-irama musik tertentu yang sebenarnya terdiri atas berbagai tingkat realitas bunyi dalam setiap keheningan.
Dan itupun tergantung pada sifat dasar seorang musikus itu sendiri. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan sifat dasar adalah ; Sifat ketidak sempurnaan sebagian besar manusia yang dikuasai oleh hawa nafsu (Thabi’at) dan bukan sifat Primordial (Al-Fitrah) yang terdapat juga didalam hati setiap orang, akan tetapi tersembunyi. Dan biasanya sifat dasar ini diselubungi oleh kelalaian, kebodohan dan nafsu keinginan yang tanpa batas.
“ Musik adalah salah satu dari banyaknya karunia Tuhan, maka bagi mereka yang meremehkan dan menafikan, berarti mereka telah melakukan suatu pengingkaran akan karunia Tuhan yang menyebabkan mereka harus memohon ampunan-Nya.”
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
ADAB (TATACARA) DALAM MENDENGARKAN IRAMA MUSIK
Irama musik WALTZ memiliki dampak positif bagi kesehatan batin manusia, karena ia merupakan kunci pembuka khasanah keluasan (al-iinsyirah) Hati (qalb) yang merupakan tingkatan spiritual (maqamat) pertama. Dan manusia yang mendengarkannya, ia akan tenggelam akan keindahan Tuhan yang membahagiakan. Irama musik Waltz telah terujui dalam Dunia kesehatan Islam dan sangat manjur dalam menanggulangi beberapa jenis penyakit yang diderita oleh manusia, seperti; Stress (dipresi mental) – Hypertensi (darah tinggi) dan Stroke (pendarahan otak).
Caranya;
Dengarkanlah irama musik Waltz setiap habis mandi sore, dan lakukan hal tersebut selama sebulan penuh. Selama mendengarkan jenis musik ini, kedua mata anda harus dalam keadaan terpejam, kemudian bayangkanlah diri anda sedang berada tidak jauh dari air terjun dengan airnya yang deras dan jernih serta jatuh dengan memuncratkan airnya yang seperti butiran-butiran berlian dengan sedikit percikan airnya yang dingin mengenai wajah anda.
Dalam hal ini, anda harus benar-benar dapat merasakan percikan air tersebut pada wajah anda (buatlah seperti kesan nyata) dengan menggunakan Alam Astral atau Alam Imajinal.
Suasana maupun keadaan pada waktu proses ini terjadi, ciptakanlah suasana dipagi hari yang cerah dengan sinar mentari yang memantulkan cahayanya melalui air terjun tersebut.
Irama musik JAZZ memiliki kualitas dan kehalusan yang sejuk menyejukan, yang akan mengantarkan pendengarnya masuk kedalam rahasia dibalik Alam yang tak terlihat, dan memperlihatkan kepadanya akan asal-usulnya. Irama musik Jazz merupakan tingkatan spiritual (maqamat) kedua setelah musik Waltz jika dilihat dari sudut pandang Dunia kesehatan Islam.
Musik Jazz sendiri sebenarnya terdiri dari beberapa jenis; Jazz Rap – Jazz Rock – Jazz Latin – Jazz Dixieland dan Jazz Pop. Secara keseluruhan irama musik Jazz telah teruji dan efektif sekali untuk teraphy penyembuhan beberapa jenis penyakit yang diderita oleh manusia, seperti; Asthma – Sinusitis – Polip dan Epilepsy (ayan)
Caranya:
Lakukanlah Sikap duduk yang santai dengan kedua tangan bertelekan (menopang) pinggiran kursi. Putarlah irama musik Jazz yang jenis mana saja yang anda sukai. Dan dengarkanlah dalam keadaan santai dengan suasana hati dan pikiran yang tenang, lalu pejamkanlah kedua mata anda.
Ketika irama musik Jazz ini berlangsung, buatlah proyeksi Alam Astral dengan membayangkan diri anda sedang berada disuatu daerah pertanian yang subur dengan dikelilingi gunung dan lembah.
Dalam Alam Astral atau Alam Imajinal ini anda harus benar-benar dapat merasakan sejuknya udara dan semilir angin gunung ketika suasana mendekati senja hari. Lakukanlah cara seperti ini selama satu bulan penuh dengan secara rutin setiap hari agar anda mendapatkan manfaatnya.
Irama musik Country (Country Rock - Country Blues) dan Irama musik Blues (blues Classic - Blues Urban) merupakan tingkatan spiritual (maqamat) ketiga setelah musik Waltz dan Jazz.
Didalam kedua Irama musik jenis ini, nada-nadanya memperoleh eksistensinya dari kekuatan yang memberinya kehidupan batiniah bagi orang yang mendengarkan dan memberi kemungkinan baginya yang memenuhi kualifikasi tertentu untuk mencapai sebuah dunia yang berada dibalik setiap nada, sekalipun nada-nada dalam kedua Irama musik jenis ini memperoleh eksistensinya dari suatu kekuatan yang telah memberinya kehidupan.
Irama musik Country maupun Blues telah teruji dalam Dunia kesehatan Islam sebagai teraphy penyembuhan beberapa penyakit yang diderita manusia, seperti; Maag – Ambeien (wasir) – Lumbargo (pinggang) – Rheumatic (encok) – Asam Urat – Lumpuh Setengah Badan (piansui) dan Beri-beri (kaki Gajah).
Caranya:
Lakukanlah Sikap tubuh berbaring dilantai dengan tanpa bantalan pada kepalanya. Kedua tangan harus berada disisi pinggul (menjulur) kearah lutut. Buatlah suasana santai dengan mengendorkan otot-otot tubuh. Kemudian dengarkan Irama musik Country atau Blues dengan kedua mata dalam keadaan terpejam, lalu buatlah proyeksi Alam Astral atau Alam Imajinal dengan membayangkan diri anda sedang berjalan (jalan setapak) disebuah bukit yang menanjak dan banyak ditumbuhi pohon-pohon besar yang daunnya rindang.
Ciptakanlah atau buatlah kesan suasana pagi hari yang cerah, dan rasakan keringat mengucur deras membasahi sekujur tubuh anda. Akan tetapi dalam kondisi seperti demikian, anda harus tetap berjalan dengan penuh semangat yang tinggi dan tidak tampak kelelahan sedikitpun terlihat pada wajah anda. Kerjakanlah cara ini selam satu bulan penuh dengan tanpa terputus agar anda mendapatkan manfaatnya.
Irama musik Disco dan musik Rock (Hard Rock – Slow Rock) serta Irama musik Pop memiliki daya refleksi dan bayangan dari suatu wujud yang transenden untuk dapat bergabung dengan kesunyian dalam mengubah kegaduhan serta kegemparan dunia eksternal. Irama-irama musik jenis ini merupakan tingkatan spiritual (maqamat) keempat. Yang dapat dijadikan sebagai sebuah pembebasan diri melalui transformasi batin yang terjadi kapan dan dimanapun dalam meraih ketenteraman dan kedamaian yang tersembunyi dipusat wujud manusia.
Irama-irama musik Disco – Rock dan Pop dari sudut pandang Dunia kesehatan Islam telah teruji dan efektif sekali dalam teraphy penyembuhan suatu penyakit yang diderita oleh manusia, yaitu; Berbagai macam jenis penyakit Kanker dan berbagai macam jenis penyakit kulit.
Caranya:
Lakukanlah Sikap tubuh dengan berdiri tegak lurus. Kedua tangan diangkat tinggi-tinggi diatas kepala, kemudian dengarkanlah salah satu dari jenis Irama musik tersebut diatas dengan memproyeksikan Alam Astral atau Alam Imajinal dengan membayangkan diri anda berdiri ditengah-tengah gurun pasir yang tandus dan gersang dengan terik mataharinya yang menyengat sekujur tubuh anda yang tidak mengenakan sehelai benangpun juga (telanjang).
Anda harus benar-benar dapat merasakan panasnya sengatan sinar Matahari itu pada tubuh anda, dari mulai kepala (ubun-ubun) sampai telapak kaki. Jika anda memproyeksikan Alam Astral ini dengan baik dan benar (seperti benar-benar terjadi atau nyata), maka hawa sakti dari panas tubuh anda akan membakar dan menjalar didalamnya. Keringat akan mengucur deras dan tak lama kemudian kepala anda akan merasa pening dengan tubuh agak sedikit limbung.
Dalam kondisi seperti ini, biarkan saja dan anda tidak perlu merasa khawatir, karena proses dari gejala-gejala tersebut terjadi hanya sebentar saja. Jika hal ini anda lakukan dalam waktu sebulan penuh dengan tanpa terputus setiap harinya, maka anda akan dapat merasakan manfaatnya.
Irama musik Boogie Woogie – Rock & Roll dan Cha-Cha memiliki sifat realitas batin yang akan membawa jiwa orang untuk memenuhi kualifikasi dalam melakukan pendakian spiritual dan menggerakannya untuk meninggalkan dunia material dengan menghunjamkan akar-akar eksistensinya kedalam dunia spiritual itu sendiri.
Hal ini dikarenakan, ketiga jenis irama musik tersebut akan dapat menyebabkan esensi manusia bergerak serta mewujudkan sesuatu didalam diri dengan tanpa disadarinya. Irama musik Boogie Woogie – Rock & Roll dan Cha-Cha merupakan tingkatan spiritual (maqamat) kelima setelah musik Disco – Rock dan Pop. Jenis musik ini telah teruji dalam Dunia kesehatan Islam sebagai teraphy penyembuhan beberapa penyakit yang diderita manusia, seperti; Vertigo (pusing tujuh keliling) – Anemia (kurang darah) – Isomnia (sulit tidur) dan Phobia (takut akan ketinggian).
Caranya:
Lakukanlah Sikap duduk santai dengan tulang punggung menempel pada dinding rumah dan kedua kaki dijulurkan kedepan menempel pada lantai. Pejamkanlah kedua mata anda sambil mendengarkan irama musik dari salah satu jenis musik tersebut diatas (Boogie Woogie – Rock & Roll dan Cha-cha) dan aturlah irama nafas anda.
Buatlah proyeksi Alam Astral atau Alam Imajinal, bahwa diri anda tengah berada atau berdiri diatas sebuah batu yang terletak diatas puncak gunung tinggi menjelang keangkasa pada malam hari dalam suasana bulan purnama. Puncak gunung tersebut begitu gersangnya dengan tanpa ada satupun pepohonan tumbuh disekitarnya.
Anda harus dapat merasakan lembutnya semilir angin dan cahaya sinar rembulan yang menyelimuti diri anda dari kepala sampai kaki. Kemudian arahkanlah pandangan mata anda kebawah, dan disana anda tidak akan mendapati atau melihat cahaya apapun, baik lentera, api atau obor, yang ada hanyalah cahaya dari bias sinar bulan purnama tersebut saja.
Dalam keadaan dan kondisi seperti ini, nafas anda akan menjadi memburu dan denyut jantung anda akan menjadi lebih cepat detaknya. Menghadapi situasi seperti ini anda tidak perlu khawatir, karena sebentar saja reaksi tersebut akan hilang dengan sendirinya. Lakukanlah cara ini selama satu bulan penuh dengan rutin dan tanpa terputus setiap harinya agar anda dapat merasakan manfaatnya.
Irama musik Salsa – Mambo – Reggae dan Bossanova memiliki sarana untuk pendakian jiwa menuju dunia transenden, agar diri manusia terlepas dari jurang dunia material yang sangat dalam dan berbagai pesonanya. Sekaligus merupakan suatu keajaiban yang dapat menimbulkan kesadaran dalam hati dan juga gerakan (harakat) serta gairah spiritual yang tercermin dalam hidup dan kehidupan manusia di dunia yang fana ini.
Keempat irama musik ini merupakan tingkatan spiritual (maqamat) keenam dari irama musik Boogie Woogie – Rock & Roll dan Cha-cha yang dapat menyempurnakan jiwa dan pembunuhan hawa nafsu dalam diri manusia yang mendengarkannya. Irama musik Salsa – Mambo – Reggae dan Bossanova dalam Dunia kesehatan Islam telah teruji dan efektif sekali sebagai teraphy penyembuhan beberapa penyakit yang diderita manusia, seperti; Ginjal – Prostat – Hepatitis – Diabetes Mellitus dan Jantung Koroner.
Caranya :
Lakukanlah Sikap duduk sila kunci mas (kedua kaki saling tumpang tindih diatas paha) dengan kedua telapak tangan menempel pada paha pula. Aturlah irama nafas anda dengan baik dan benar (jangan terlalu cepat). Kemudian dengarkanlah salah satu dari irama-irama musik tersebut diatas dengan hati dan pikiran yang tenang.
Nikmatilah alunan irama musiknya sambil anda memproyeksikan Alam Astral atau Alam Imajinal dengan membayangkan diri anda sedang berada ditengah-tengah badai samudera diatas sebuah sampan pada malam hari dengan kondisi Bulan yang mengeluarkan sinarnya. Bayangkanlah sampan yang sedang anda naiki itu terombang-ambing kesana-kemari akibat hempasan ombak lautan yang semakin lama semakin mengamuk dengan amat dahsyatnya.
Dalam kondisi seperti ini anda harus dapat merasakan air laut yang memuncrat ketubuh anda, sehingga menjadikan anda basah kuyup. Dalam kondisi seperti ini, jantung anda akan berdegup keras dan nafas memburu.
Anda tidak perlu khawatir dengan situasi macam ini, dan hati maupun pikiran harus tetap tenang dengan mengikuti kemanapun ombak membawa sampan dan diri anda. Ingat…….. jangan sekali-kali anda melakukan perlawanan atau berniat melawan atau bersegera sadar dari proyeksi Alam Astral anda.
Bersikaplah pasrah secara total kepada Sang Pencipta, karena rasa kekhawatiran itu akan hilang dengan sendirinya hanya dalam waktu yang singkat saja, bersamaan dengan redanya badai samudera tersebut. Jika car ini anda lakukan selama sebulan penuh dengan secara rutin dan tidak terputus setiap harinya, maka anda akan dapat merasakan manfaatnya baik secara lahir maupun batin.
Irama musik Classic memiliki karakter yang mistis dan religius. Dengan mendengarkan irama musik Classic, manusia akan dipersatukan dengan getaran kehidupan Alam, yang didalam diri seseorang selalu ada dalam bentuk getaran hati, sehingga perluasan dan mencapai kebahagiaan serta ekstase yang melingkupi dunia yang fana ini.
Jenis musik ini (Classic) merupakan pula refleksi dari keadaan spiritual orang yang mendengarkannya untuk agar dapat menuju pusat spiritual. Suatu pencapaian ke pusat yang tak Mungkin teraih tanpa pendakian spiritual dalam aspek musikalnya.
Irama musik Classic merupakan tingkatan spiritual (maqamat) ketujuh dari musik Salsa – Mambo – Reggae dan Bossanova. Dan sudah teruji dalam Dunia kesehatan Islam sebagai teraphy penyembuhan beberapa penyakit yang diderita oleh manusia, baik pria maupun wanita, seperti; Impotensi (premature ejakulasi) – Frigiditas – Keputihan (pektay) – Sulit Orgasme bagi wanita – Mandul dan siklus Haid yang tidak teratur (nyeri ketika Haid).
Caranya:
Lakukanlah Sikap tubuh dengan berdiri tegak lurus dan kedua tangan direntangkan sejajar dengan bahu. Pejamkanlah kedua mata anda, lalu proyeksikan diri anda di Alam Astral atau Alam Imajinal, bahwa anda sedang berdiri pula dengan merentangkan kedua tangan di tengah-tengah taman bunga yang berwarna-warni begitu indahnya dan tersinari oleh mentari pagi yang cerah.
Tataplah oleh mata anda bunga-bunga tersebut dengan memutarkan tubuh anda secara perlahan (searah jarum jam. Resapkanlah keindahan dari bunga-bunga itu pada hati dan pikiran anda, lalu ciumlah aroma wewangian yang keluar dirinya.
Dan harus dapat merasakannya dengan baik dan benar seperti kenyataan. Jika cara ini anda lakukan dalam satu bulan penuh dengan secara rutin dan tidak terputus dalam setiap harinya, maka kemanfaatan yang banyak akan anda peroleh.
Saran:
Mendengarkan irama musik untuk tujuan Teraphy Kosmik Qaf harus secara langsung dengan tanpa menggunakan Head Phones. Usahakanlah agar Tape anda memiliki dua salon (speaker) dan diletakan diarah kanan dan kiri sejajar bahu kita dengan jarak kurang lebih lima meter dengan volume suara yang tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan (sedang-sedang saja) posisi berdiam tubuh anda harus tengah-tengah antara dua speaker tersebut. Jika suara Tape anda memakai Double Surround, hal itu akan menjadi lebih baik dan mempercepat proses penyembuhan penyakit yang anda derita.
Mengenai Ruangan, pilihlah ruangan yang tidak berpendingin (AC) dengan ukuran luas minimal 6X6 M2 dan tinggi platform 3 M2. Akan tetapi yang terbaik adalah anda lakukan diudara terbuka dengan udaranya yang sejuk dan bersih serta terbebas dari polusi (ruing gunung) dan berdekatan dengan gemerecik suara air yang tidak terlalu keras. Jika cara ini dilakukan, berarti anda telah menyatukan diri dengan Alam semesta (makrokosmos bersatu dengan makrokosmos).
Bagi Ibu yang sedang mengandung atau hamil, saya sarankan untuk tidak ikut-ikutan untuk memperdengarkan irama musik untuk bayi yang ada didalam kandungannya dengan menempelkannya pada perut sang ibu, karena hal tersebut akan berakibat negatif pada kejiwaan si anak itu sendiri didalam proses pertumbuhannya kelak.
Hal ini disebabkan arus suara dari irama musik tersebut tidak terbendung dan tidak tersaring lagi, walaupun dengan suatu alasan perut sang ibu-lah sebagai penyaringya (sekat), irama musik akan menghunjam secara langsung kejiwa jabang bayi.
Oleh karena itu, yang terbaik adalah ibundanya sendiri yang mendengarkan irama musik tersebut. Bukankah ibu yang mengandung itu selalu terjalin hubungan yang sangat erat secara batiniah dengan bayi yang dikandungnya…?.
Baik disadari maupun tidak disadarinya, jika seorang ibu yang memperdengarkan irama musik anak dalam kandungannya, dengan jenis irama musik yang manapun, tentu saja si jabang bayi-pun akan mendapatkan manfaatnya pula dengan tanpa mengambil resiko dan efek negatif dari irama-irama musik tersebut ke diri bayi yang berada di dalam kandungannya, karena irama musik yang ditujukan kepada bayi dalam kandungan melalui telinga ibunya sudah mengalami proses positif, baik melalui telinga dan jiwa sang ibu itu sendiri.
Dan hal ini disebabkan oleh sumber bunyi yang menghasilkan gelombang masuk ke liang pendengaran sang ibu dengan menggetarkan gendang telinga, sehingga tulang-tulang osikel turut bergetar pula sampai ketingkap oval untuk mencairkan koklea lalu cairan tersebut menggerak-kan sel Reseptor organ korti untuk menghasilkan impuls saraf, dan dibawah ke otak oleh saraf pendengaran.
Oleh karenanya, semakin kuat gelombang bunyi, maka semakin banyak pula sel reseptor yang melakukan gerakan-gerakan yang keluar masuk untuk mengatur tekanan udara didalam agar terjadi keseimbangan dengan tekanan udara dari luar.
Memang benar, bahwa irama musik yang ditujukan pada bayi dalam kandungan akan memiliki pengaruhnya yang sangat kuat kepada sang bayi itu sendiri setelah masa pertumbuhan dan proses kedewasaannya kelak, akan tetapi sang ibu-pun harus benar-benar selektif dalam memilih jenis irama musik bagi bayi dalam kandungannya maupun bagi sang ibu itu sendiri, karena jika tidak ada kesesuaian atau kesukaan yang sama baik sang ibu maupun sang jabang bayi dengan jenis irama musik, maka proses pembentukkan atau pembentukan bayi didalam kandungan sang ibu tersebut akan mengakibatkan efek kejiwaan yang membekas sampai masa kedewasaannya.
Ia akan sering mengalami sakit-sakitan dari usia 6 bulan sampai usia 5 –7 tahun. Dan terjadi proses perubahan karakter (watak); Anak itu akan menjadi sangat pendiam sekali atau akan menjadi anak yang super aktif (nakal) dan suka membantah serta banyak menuntut ke orang tuanya.
Pada intinya, sang ibu harus menyukai terlebih dahulu jenis musik yang akan diperdengarkan kepada bayi di dalam kandungannya. Jadi bukan hanya sekadar mendengarkan saja.
Akan tetapi sang ibu-pun harus benar-benar menyukai jenis irama musik tersebut dan kondisi hati dan pikiran sang ibu-pun harus dalam keadaan senang dan bahagia, karena jika kondisi batin sang ibu dalam keadaan tidak tenang – gelisah dan banyak mengalami konflik didalam keharmonisan rumah tangganya, maka hal ini akan berpengaruh pula kepada jiwa bayi yang berada didalam kandungannya. Jangan pernah dengarkan isu-isu dan propaganda yang menyatakan, bahwa jika seorang bayi didalam kandungan diperdengarkan irama musik akan menjadikan dirinya kelak; Cerdas – Aktif dan penurut.
Hal tersebut tidak akan pernah menjadi kenyataan jika sang ibundanya sendiri dalam kondisi banyak mengalami konflik. Dan kesimpulannya, jenis irama musik apapun yang didengar oleh seorang ibu yang sedang mengandung bayinya, asalkan hati dan pikiran sang ibu itu sendiri dalam keadaan senang dan bahagia, maka dampak positif akan masuk kedalam jiwa bayi didalam kandungannya.
Selengkapnya...
Senin, 27 Oktober 2008
AURA DALAM KOSMOLOGI ISLAM
Pernah dengar tentang kata-kata Aura? bagi yang asing dengan aura inilah tempatnya untuk memahami lebih lanjut dan mengerti definisi aura.
berikut dibawah ini adalah tulisan dari Guru Besar MK Al Mukarramah, Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy'ari tentang AURA.
dan penjelasan mengenai AURA lebih detail akan dibahas dalam sebuah buku, TERAPHY KOSMIK QAF, yang didalamnya mengupas segala macam teknik pengobatan baik itu ilahiah maupun alamiah. dan teknik pengobatan ini untuk umum, jadi nantinya masyarakat bisa mengobati penyakitnya sendiri atau penyakit keluarganya, anaknya, pendek kata menjadi dokter sendirilah gitu...
kebayang tidak, berapa biaya untuk pengobatan sekarang ini? berapa obat untuk sakit jantung, sakit ginjal, dan masih banyak penyakit gawat-gawat yang ada sekarang ini?? jika yang sakit itu orang kaya tentunya tidak menjadi masalah dana seberapun itu...bagaimana jika yang sakit adalah orang tidak punya?? disinilah nanti akan terbit buku TERAPHY KOSMIK QAF. suatu teraphy yang sangat ampuh melalui media ilahiah dan alamiah.
silahkan simak tulisan Guru Besar MK Al Mukarramah, Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy'ari tentang AURA DALAM KOSMOLOGI ISLAM,jika ada pertanyaan silahkan kirim email ke : abdullah.rawammi@gmail.com
AURA DALAM KOSMOLOGI ISLAM
Aura Islami adalah merupakan pantulan dari sisi luar pancaran cahaya langit dan bumi, yang mengkristal secara batin dan terpendam dalam jiwa manusia. Cahaya Aura Islami tidak menyilaukan mata, bahkan sebaliknya ia akan dapat menyejukkan dan menentramkan batin orang yang pada dasarnya memiliki kepekaan sensual dan sedap dipandang mata bagi orang lain yang memandangnya.
Sedangkan kehebatan lain dari cahaya Aura Islami itu sendiri tidak terlepas dari aneka warna memukau yang melambangkan kesempurnaan ciptaan Tuhan dan aspek lain dari jiwa Nabi Muhammad SAW, Yang merupakan suatu teofani dan refleksi dari ketakterbatasan kekayaan khazanah Tuhan yang tercipta setiap saat tanpa pernah kehabisan kemungkinan-kemungkinannya yang tampak sebagai refleksi duniawi dari keadaan surgawi.
Maka aneka warna hasil polarisasi cahaya Aura Islami melambangkan manifestasi yang Esa dalam yang banyak, serta kebergantungan yang banyak kepada yang Esa. Setiap warna dari cahaya Aura Islami melambangkan keadaan dan cahayanya sendiri, tanpa cahaya yang terbatas hanya pada warna tertentu. Apabila aneka warna dianggap melambangkan keadaan dan tingkatan eksistensi kosmik, maka warna Aura Islami pun merupakan simbol dari wujud dan simbol sumber seluruh eksistensi yang senantiasa berhubungan dengan kehadiran Tuhan dan inteligensi kosmik yang juga bersinar di dalam diri manusia.
Dan merupakan sarana untuk menyadari keberadaan Yang Maha Esa, melalui cahaya yang bersinar di seluruh kosmos dari pusat Axis mundi (cahaya keberkahan) yang tidak di timur maupun di barat. Aura Islami itu sendiri adalah suatu pancaran sinar (cahaya) yang mengalami proses penghalusan berkali-kali dan sebagian sinarnya melingkupi makrokosmos (alam semesta atau jagat besar) dan sebagiannya lagi melingkupi mikrokosmos (manusia atau jagat kecil), pancaran sinar Aura Islami ini ada yang aktif dan ada pula yang non aktif baik pada alam semesta maupun pada diri manusia.
Daya aktif Aura Islami atas alam semesta akan tampak terlihat nyata dan jelas pancaran sinarnya (transparan) sedangkan daya aktif Aura Islami atas diri manusia tidak begitu jelas terlihat (hanya berupa uap tipis)
Pancaran sinar Aura Islami terbagi menjadi dua bagian :
1. Sinar Aura Puraka (menarik - menyedot)
Jenis Aura Islami yang dimaksud ini (Aura Islami puraka) setiap saat dapat dilihat oleh mata lahir, dengan menggunakan peralatan medis dalam bentuk pengambilan kamera foto dengan resolusi yang tinggi, atau dengan pandangan mata lahir seseorang yang sudah terlatih dengan baik, sehinggga ia akan dapat mengetahui jika seseorang itu mengidap suatu penyakit atau tidak, dengan hanya mengetahui atau melihat warna aura yang terdapat (yang keluar) dari tubuh manusia.
Aura jenis ini akan terlihat berupa uap atau kabut tipis yang melingkari atau menyelimuti seluruh bagian tubuh eksternal (luar) dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Jenis aura ini selalu aktif dalam tubuh manusia, sedangkan polarisasi warna aura ini tipis dan tebalnya tergantung pada kondisi tubuh manusianya.
Dan jika seseorang sedang sehat lahir batinnya, maka pancaran sinar auranyapun akan menebal dan jelas terlihat dengan menggunakan peralatan medis tadi. Akan tetapi bila seseorang itu dalam kondisi tubuh yang kurang sehat (sakit) baik lahir maupun batinnya, maka sinar auranya akan terlihat redup - tipis dan samar. Jenis aura ini dimiliki oleh pria maupun wanita dengan kadar yang seimbang.
Jenis polarisasi warna aura puraka terdiri dari: warna merah - kuning - hijau - biru dan putih. Polarisasi warna aura ini memiliki warna-warna muda, mendekati warna pastel. (Mengenai keterangan jenis aura puraka ini, Insya Allah dunia paramedis lebih mengerti dan lebih paham).
2. Sinar Aura Resaka (mengeluarkan - membangkitkan)
Sinar aura resaka adalah suatu pancaran sinar yang bersifat ilahiah, mistis dan sakral yang dapat menimbulkan daya pesona - daya tarik dan kharismatik bawaan lahir pada setiap diri manusia. Aura jenis ini tidak dapat dilihat oleh peralatan yang paling canggih sekalipun.
Jenis aura ini akan sangat bermanfaat dan banyak membantu manusia di dalam kehidupannya sehari-hari, baik di dalam pergaulan antar manusia dalam pekerjaan, dalam karir atau jabatan, dalam berbagai bidang usaha dan dalam mendapatkan pasangan hidup (jodoh atau hitbah) serta dapat menimbulkan daya pesona yang kuat memikat bagi lawan jenis. Jenis aura ini terdapat pada alam semesta dan di dalam diri manusia (pria dan wanita) dengan jumlah kadar persentase yang berbeda satu sama lainnya.
Pancaran sinar aura resaka pada alam semesta sebanyak 60%, pada manusia 40%. Sedangkan untuk manusia dibagi menjadi 2 (dua) bagian yakni Pria 10% (untuk pria 5% terletak pada seluruh wajahnya sampai kepala dan 5% lainnya terletak pada pangkal leher atau tulang punggung atas sampai tulang kaki) untuk wanita 30% (20% terletak pada bagian wajahnya sampai kepala. 7% terletak pada pangkal leher atau tulang punggung atas sampai pelvis, tulang pinggul yang mencakup pantat dan vagina. 3% terletak dari paha sampai ujung kaki. Dan pancaran halus sinar aura wanita 20% yang terletak pada wajah sampai tulang punggung, pangkal leher dibagi lagi menjadi 4 bagian 5% pada mata, 5% pada hidung, 5% pada mulut dan 5% nya lagi pada seluruh dasar wajah dari dahi sampai dagu).
Maka kesimpulannya pancaran halus sinar aura pada diri manusia itu menjalar dan melingkupi seluruh tubuhnya, dari ujung kepala (tulang cranial) sampai ujung kaki (tulang kaki). Sedangkan 20% aura wanita yang terletak pada wajahnya terdiri dari otot wajah yang melekat pada 3 lapisan kulit wajah, yakni Epidermis, Dermis dan Hypodermis yang akan memberinya elastisitas dan ketahanan, sehingga ia akan dapat atau bisa mengekspresikan perasaannya, seperti tersenyum, tertawa, cemberut (ngambek), saat ketika sedang marah dan sebagainya.
Kesemuanya ini atau saat-saat kondisi seperti inipun jika auranya sedang aktif maka yang akan tampak terlihat oleh orang lain atau terutama lawan jenisnya adalah daya pesona yang luar biasa sekali, cuma sayangnya para wanita ini belum menyadarinya.
Bahkan jika saja segala gerak-geriknya ia lakukan dengan suatu kewajaran (tanpa dibuat-buat) maka daya pesonanya akan kian bertambah hebat, sebab daya pesona itu bukan hanya terdapat pada senyuman manis di bibir dan kerlingan matanya yang tajam memikat, serta melangkah dengan gemulai akan tetapi saat ia marah, cemberut (ngambek) sebenarnya ada daya pesona tersendiri asalkan dilakukannya dengan secara wajar.
Begitupun sebaliknya bagi kaum pria, jika auranya sedang aktif, maka ia pun akan mengalami hal yang serupa seperti halnya kaum wanita, walupun timbulnya daya pesona itu tidak sebesar dengan yang ada pada diri kaum wanita.
Pancaran sinar aura jenis ini adalah sarana yang memungkinkan pengaksesan kesunyian yang tersembunyi di pusat wujud manusia. Kesunyian yang merupakan bentuk dari sesuatu yang halus dan merupakan sumber seluruh aktifitas serta perbuatan yang penuh arti sekaligus menjadi seluruh sumber keberadaan dan kehidupan manusia.
Pancaran sinar aura adalah keyakinan yang bersifat ilahiah yang berasal dari karunia Tuhan dan terletak di dalam segumpal hati dan perasaan setiap manusia.
Aura merupakan sebuah kunci yang diberikan kepada manusia agar dapat menguak rahasia daya pesona - daya tarik dan kharismatik dalam hidup dan kehidupannya sendiri, dan memperoleh harta yang terlupakan dan terabaikan karena tersembunyi didalam dirinya.
Aura diberikan kepada manusia untuk mengenal dirinya sendiri dan kemudian mengenal Tuhan untuk mendengarkan nyanyian alam. “Bukankah antara alam dan manusia itu sudah saling mengikat satu dengan yang lainnya…….?!”
Mereka (alam dan manusia) saling membutuhkan - saling melengkapi dan seharusnya pula saling menjaga kelestariannya masing-masing. Seperti halnya hubungan antara pria dan wanita secara kodrati sudah saling tarik menarik (ada rasa ketertarikan satu sama lain), secara manusiawi mereka (pria dan wanita) selalu ingin diperhatikan, disayangi, dikasihi, dan dipuji serta tidak ingin dikhianati atau dibohongi oleh pasangannya.
Pada dasarnya kaum pria dan kaum wanita memiliki daya pesona bawaan lahir, yakni daya pesona yang memikat dan kharismatik, cuma saja mereka tidak mengetahui dan menyadarinya, dikarenakan hati dan pikiran terlalu sibuk dengan berbagai problema hidup dan kehidupannya.
Seperti pengenalan pada semua kesulitan yang banyak dihadapi manusia pada umumnya, walau sebenarnya hal itu sudah menunjukkan kenyataan tentang realitas hidup, bahwa akar jiwa telah tenggelam dalam dunia keserbaragaman makhluk, dan bahwa manusia selalu dibuyarkan dan dialihkan oleh berbagai benda dan keadaan.
Feminin adalah sifat bawaan seorang wanita yang merefleksikan kebenaran metafisik, bahwa dimensi internal dari Ketuhanan yang diidentikkan dengan keindahan dan kecantikan merupakan prototip kewanitaan yang feminin.
Sedangkan sumber kecantikan dan keindahan adalah keselarasan (Tanasub). Semua yang selaras mewujudkan keindahan di dunia, karena seluruh kecantikan, keindahan dan keselarasan yang dapat diamati di dunia ini adalah pantulan kecantikan dan keindahan dunia tersebut. Alasan untuk ini adalah adanya hubungan antara esensi hati (qalbu) wanita dengan dunia transenden, yang disebut alam ruh, karena dunia transenden adalah dunia kecantikan dan keindahan sekalipun sumbernya adalah dunia transenden.
Jiwa manusia (pria dan wanita) bekerjasama dengan tubuh duniawi melalui suatu mukjizat, yang rahasianya hanya diketahui oleh Tuhan. Sehingga mewujudlah sisi luar dari suatu cahaya berupa aura.
Jika kita tengok sejarah masa lampau, pada awal penciptaan Nabi Adam AS, Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS dari tanah dengan tanpa perantara ibu dan bapak, dan tanah yang dijadikan untuk membentuk Nabi Adam AS sebelumnya telah dibubuhi aroma wewangian surgawi dan nur (cahaya) sifat Allah, kemudian direndam dalam air Qudlratul Izzah maka terbentuklah sebagian dari sifat Jalal dan Jamal atas diri Nabi Adam AS.
Ketika itu Nabi Adam AS masih merupakan sebuah patung, yang kemudian dimasukkan ruh ke dalam tubuh patung Nabi Adam AS, ketika ruh diperintahkan memasuki patung Nabi Adam AS, ia (ruh) hanya berputar-putar mengelilingi patung tersebut, sepertinya enggan memasuki patung Nabi Adam AS.
Dalam satu riwayat, ketika ruh mengelilingi patung Nabi Adam AS itu membutuhkan waktu selama kurang lebih: 200 tahun, kemudian Allah SWT. memerintahkan Malaikat Izra’il As. untuk memaksa agar memasuki patung Nabi Adam AS.
Setelah ruh memasuki patung Nabi Adam AS sampai sebatas kepala maka pada saat itu juga terbentuklah otak dan jaringan saraf yang sempurna, kemudian terbentuklah mata yang saat itu juga sempat melirik ke arah para Malaikat yang mengerumuninya, lalu terbentuklah telinga, dan ia (Nabi Adam AS) mendengar para Malaikat bertasbih memuji Allah SWT dengan suara yang merdu dan syahdu.
Begitulah lambat tapi pasti ruh merambat hingga sampai kaki dan bagian tubuh lainnya, dan bersamaan dengan itu pula terbentuklah jaringan tubuh berupa kerangka tubuh yang tersusun dari 206 tulang yang berfungsi untuk menegakkan, memberikan bentuk, dan menggerakkan tubuh, serta untuk melindungi jaringan tubuh yang lunak dan mudah rusak seperti: Otak, Jantung, Paru-paru, Hati dan jaringan beberapa saraf tulang belakang kemudian ruh itu memasuki bagian dalam tulang, dan terbentuklah (terisi) suatu substansi yang dikenal sekarang dengan sebutan sumsum tulang, tempat terbentuknya sel darah merah dan sel darah putih.
Begitulah penciptaan manusia pertama Nabi Adam AS. (Abul Basyar), dari setelah patung lalu menjadi kerangka tubuh dan terbungkus Darah, Daging dan Kulit. Allah Maha Pencipta lagi Maha Pandai.
Ketika Nabi Adam AS berada di taman Surga Firdausin, ia melihat sepasang burung yang sedang asyik bermesraan diatas pohon tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, betapa bahagianya jika ia mempunyai pasangan seperti burung itu.
Saat Nabi Adam AS termangu-mangu sambil memandang sepasang burung tersebut, Allah kirimkan angin surga yang bertiup lembut dan semerbak harum mewangi kearah Nabi Adam AS maka tertidurlah ia, dan didalam tidurnya ia bermimpi berjumpa dengan seorang wanita rupawan nan cantik jelita yang mempesonakan hatinya, apalagi saat wanita itu tersenyum manis kepadanya, kejadian mimpi yang dialami Nabi Adam AS. adalah atas kehendak Allah, dan saat Nabi Adam AS masih dalam keadaan tertidur.
Allah ciptakan wanita yang elok rupawan yang hadir didalam mimpi Nabi Adam AS. dari tulang rusuk (shulbi) kirinya, kemudian tulang rusuk kiri Nabi Adam AS diletakan pada sangkar yang berupa cahaya, yang sebagian cahayanya diambil dari tubuh Nabi Adam AS dan dibasuh dengan aroma wangian surga menurut salah satu riwayat tulang rusuk tersebut diselimuti oleh Nur (cahaya) selama: 40 Th, dan selama itu pula Nabi Adam AS tertidur pulas.
Maka ketika Nabi Adam AS terjaga dari tidurnya, ia sempat kaget dan tercengang dibuatnya, karena wanita yang hadir dimimpinya itu kini telah duduk bersimpuh disampingnya sambil memandangnya dengan tatapan kasih yang teramat dalam.
Singkat cerita akhinya Nabi Adam AS, dinikahkan oleh Allah SWT dengan wanita itu, yang Allah beri nama: Hawa (Siti Hawa). Seperti tersebut dalam Al-Qur’an;
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya ialah Dia menciptakan untuk kamu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan tentram padanya dan dijadikannya diantara kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. 30 :21)
“Mereka itu (isteri) adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka”. (QS. 2 : 187).
Dari riwayat tersebut maka kita dapat menarik kesimpulan, bahwa pada dasarnya antara pria dan wanita sudah terjalin hubungan yang erat dan sangat lama sekali.
Mereka (pria dan wanita) berawal dari satu sumber, berawal dari satu tempat dan satu jasad. Maka sudah sewajarnya jika pria dan wanita sudah ada rasa saling tertarik satu sama lainnya dan saling memiliki serta rasa ingin mencintai dan dicintai.
Hal ini adalah sudah merupakan suatu kenyataan hidup yang tidak dapat dipungkiri lagi, wanita akan mengetahui dengan jelas jika ada seorang pria yang menyukainya, walau sang pria bersikap acuh tak acuh kepadanya dan terkesan jual mahal, karena wanita memiliki insting bawaan lahir yang tajam sekali, mereka lebih banyak berbicara dengan hati dan perasaannya, yang jelas wanita akan peka dengan gerak-gerik pria, akan tetapi lain halnya dengan pria.
Sedangkan kaum pria tidak memiliki kepekaan batin bawaan lahir untuk menilai seorang wanita, ia tidak akan mengetahui dalam waktu singkat apakah wanita itu menyukainya atau tidak, terkecuali wanita itu sendiri yang mengatakannya, atau dengan pembuktian diri, dan dalam hal ini sang pria jangan terlalu banyak berharap, karena wanita sangat pandai menyembunyikan perasaannya, walau sekalipun ia (wanita) merasakan rindu yang teramat sangat kepada pria pujaanya.
Ini semua disebabkan oleh sifat bawaan masa lampau, yakni tentang penciptaan Hawa (Siti Hawa) yang diambil dari bagian tubuh Nabi Adam AS yang tertutup daging dan kulit (rusuk atau shulbi), dan rasa malu pada diri wanita lebih kuat daripada rasa malu yang dimiliki oleh pria.
Dalam dunia saat ini, ketika dari hari ke hari semakin sulit memasuki spiritualitas sejati, dan ketika ketampanan, keelokan, kecantikan, keindahan dan kebahagiaan kaum pria dan wanita dipersatukan dengan pancaran sinar aura, dan getaran kehidupan alam, yang di dalam diri seseorang selalu ada dalam bentuk getaran hati dan perasaan.
Kehidupan mereka (kaum wanita) bersatu dengan kehidupan alam, seperti halnya mikrokosmos bersatu dengan makrokosmos, sehingga jiwa mereka mengalami perluasan dan mencapai kebahagiaan dan ekstrase yang melingkupi dunia transenden, yang berada di atas taburan-taburan bunga surgawi sebagai karunia Ilahi Rabbi dan barokah langit, dan mereka akan diputuskan secara tiba-tiba dari dunia waktu; “Agar dapat dapat merasakan dirinya berhadap-hadapan dengan wajah yang maha kekal, dan untuk sesaat merasakan nikmatnya peleburan (fana) dan kekekalan (baqa)”.
“Melalui Aura-lah menggema kembali keselarasan fundamental
yang memungkinkan manusia
untuk kembali kepada keberadaan
dan kesadarannya yang lebih tinggi,
dan melalui Aura pula-lah,
manusia akan terbebas dari segala perasaan
yang mengganggu hati dan pikirannya
dengan hanya melalui transformasi bathin
yang terjadi kapan dan dimanapun “
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
Sementara bagi mereka yang gagal untuk merasakan kenikmatan, kebahagiaan dan kesenangan hidupnya, itu semua disebabkan dari akibat kelalaiannya kepada Tuhan (Ghaflah), dan sebab pula tersumbatnya unsur aura bawaan lahir yang sembunyi di dalam wadah rahasia yang masih terselimuti misteri ruang dan waktu.
Mereka harus meniti anak tangga dengan satu persatu, melalui penyerahannya sendiri kepada kehendak Tuhan, dan berusaha menempatkan diri sepenuhnya dalam genggaman Tuhan, dan menjadi sumber gita-gita yang menebarkan kegembiraan dan kebahagiaan serta menuntun dirinya ke tempat primordial dan kediaman akhirnya.
Aura resaka bawaan lahir pria dan wanita yang tidak aktif akan mengakibatkan berbagai macam masalah dan problema hidup dan kehidupannya serta akan dapat merugikan dirinya, diantaranya ialah : Kurangnya daya pesona, daya tarik dan kharismanya.
Adakalanya seorang pria yang berparas tampan dan seorang wanita yang berparas cantik yang jika dipandang lama kelamaan akan membosankan dalam pandangan kita, dan sepertinya tidak ada kesan yang luar biasa pada dirinya (tidak mengesankan), terkecuali jika ia kita pandang hanya selewatan saja (sekilas pandang).
Ada pula dari sebagian pria dan wanita yang memiliki wajah biasa-biasa saja, akan tetapi menarik untuk dipandang dan tidak membosankan, hal ini menandakan bahwa pria dan wanita yang biasa-biasa ini telah aktif aura bawaan lahirnya tanpa ia sendiri menyadarinya.
Dampak negative bagi aura resaka seseorang yang tidak aktif akan mengakibatkan berbagai masalah seperti ;
1. Tidak ada keharmonisan di dalam rumah tangganya, selalu saja terjadi percekcokan dan anehnya jalannya selalu ada untuk memicu terjadinya percekcokan suami, istri.
2. Jika ia punya istri atau suami atau kekasih (pacar), maka yang menjadi pasangannya itu akan selalu mengkhianati dan membohonginya (menyeleweng atau serong), walaupun sudah pernah ketahuan belangnya, dan selalu saja ada orang ketiga yang mericuhkan hubungan dengan pasangannya.
3. Akan mudah terkena penyakit kanker rahim - kanker payudara - frigid - sering mengalami keputihan (pektay) dan bagi prianya akan mudah sekali terkena penyakit lemah syahwat dan prematur ejakulasi, dan bagi pria dan wanita yang tidak aktif aura resaka bawaan lahirnya akan mengalami kemandulan, serta penyebab cepat terjadinya proses penuaan pada kulit wajah.
4. Di dalam mahligai perkawinannya seringkali mengalami atau jadi perceraian (kawin-cerai sampai beberapa kali).
5. Terasa sulit dalam mencari pasangan hidup (jodoh atau hitbah), jikapun sudah mendapatkan ada saja hambatannya untuk menuju jenjang pernikahan atau awinan, dan selalu kandas di tengah jalan tanpa ada kelanjutannya.
6. Wajah tampan dan cantik, karir dan jabatan baik serta hidup berkecukupan, akan tetapi semuanya ini tidak dapat memuaskan dahaganya untuk mencapai kebahagiaan hidup, dan sepertinya hidup dan kehidupannya tidak ada kegairahan lagi (hati dan perasaannya terasa kosong - hampa) seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya.
7. Didalam bidang usaha, bisnis, dagang tidak pernah mendapatkan kemajuan, dan seringkali mengalami pasang surut, bahkan ada yang sampai mengakibatkan usahanya bangkrut total.
8. Banyak mengalami kendala dan hambatan dalam urusan kantor dan mengenai jabatan (karir), walaupun ia sudah bekerja atau berupaya semaksimal mungkin.
9. dan lain sebagainya …………….!!!
CARA MENGAKTIFKAN AURA RESAKA
BAWAAN LAHIR
Dengan mengerjakan shalat sunat hajat jam 12 malam tepat (tidur lebih dulu atau tidak tidur boleh dilakukan).
Raka’at pertama setelah membaca surat Al-Fatihah, bacalah surat: Al-Kaafiruun: 3 X.
Raka’at kedua setelah membaca surat Al-Fatihah, bacalah surat: Al-Ikhlash : 3 X
Setelah salam akhir (selesai dari shalat) lakukanlah sujud syukur dengan membaca Tasbih Nabi Yunus 41x sebagai berikut dibawah ini;
Setelah bangun dari sujud, maka dilanjutkan dengan membaca: Istighfar: 11X sebagai berikut ini;
Istighfar ini dibaca dengan sepenuh pengharapan dan sepenuh penyesalan akan dosa-dosa yang pernah dilakukannya.
Dilanjutkan lagi dengan membaca Shalawat Nabi: 11X sebagai berikut ini;
Setelah semuanya ini selesai dilakukan, maka siapkanlah sebuah cermin ukuran besar kurang lebih panjang 1 meter lebar 50 centimeter, lalu letakkanlah sebuah pelita (lentera) kecil dengan bahan bakar minyak zaitun dibawah cermin tersebut (maksudnya: cermin tadi diletakkan pada dinding dengan posisi jangan terlalu tegak lurus, untuk agar diri kita terlihat dengan jelas dalam keadaan duduk dari ujung rambut sampai ujung kaki).
Dalam praktek mengaktifkan aura resaka ini jangan sampai ada cahaya lain atau penerangan lain di dalam ruangan khusus (kamar) terkecuali penerangan dari lentera tadi. Duduklah dalam asana (posisi) sila kunci mas. Maksudnya kaki kiri diletakkan pada paha kanan, dan kaki kanan diletakkan pada paha kiri (saling tumpang tindih atau menyilang).
Aturlah jarak posisi duduk kita dengan cermin kurang lebih 1,5 meter, lalu pandanglah pertengahan antara dua alis kita dengan tanpa berkedip sambil membaca surat: An-Nuur ayat 35 sebanyak 40 X, dan batas waktu mata tanpa berkedip dalam memandang pertengahan antara dua alis hanya sebatas atau selama satu kali bacaan surat An-Nuur ayat 35 tersebut.
Setelah itu boleh mengedipkan matanya, kemudian ulang seperti cara pertama tersebut sampai 40 X atau 40 balikan. Dan hal inipun harus dilakukan secara rutin (Istiqamah) dengan tanpa terputus satu haripun, selama 40 hari. (dalam melakukan terapi ini ritme nafas harus dalam keadaan normal/tanpa ada tarikan - tahan dan buang )
Catatan:
Teraphy atau metode tingkat dasar untuk membangkitkan aura dengan medium cermin adalah merupakan gambaran hidup, dan cermin itu sendiri sudah merupakan kembaran - bayangan diri kita (raga kedua) sebenarnya banyak hal-hal yang aneh dan ajaib dalam teraphy cermin ini akan tetapi penulis tidak dapat menceritakan secara detil atau rinci mengenai rahasia keajaiban di balik sebuah cermin, karena keterbatasan kolom penulisan.
“Keagungan-Ku laksana sebuah cermin.
Siapa yang datang akan melihat dirinya sendiri dalam cermin itu. Jiwa dan raga ia melihat seluruh diri didalamnya “
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
Cara praktik membangkitkan aura resaka bawaan lahir adalah sebagai salah satu bentuk yang berhubungan dengan dimensi gaib melalui hubungan spiritualitas yang murni, yang dapat dijadikan sebagai mata air yang penuh barokah untuk menghilangkan kebingungan dan kehausan jiwa, dan menjadi tempat perlindungan dari pengaruh jaman yang negatif, dan bagi beberapa orang yang menyelami atau menghayati hakikat daripada suatu keindahan yang memukau dan mempesonakan, yang akan menuntun mereka menuju keindahan mutlak, karena aura pribadi ini merupakan pancaran sinar abadi dalam dunia ruang dan waktu.
Dan tidak akan mengalami proses kemunduran atau perubahan jika dimanfaatkan pada sesuatu yang maslahat dan mendapat ridha Ilahi.
Menurut Islam, manusia adalah makhluk Tuhan yang paling mulia. Kenyataan ini disimbolkan dalam Al-Qur’an melalui sujudnya malaikat-malaikat dihadapan Nabi Adam AS, karena perintah ilahi. Banyak ayat Al-Qur’an dan ucapan Rasuulullah SAW, yang memuji ukuran dan proporsi yang sempurna yang dengannya manusia diciptakan, serta kecantikan bentuk manusia.
Nabi SAW ketika melihat bayangannya sendiri di Cermin Hayya, berdoa pada Tuhan agar jiwanya dihiasi dengan kecantikan moral dan spiritual yang sempurna sebagaimana tubuhnya telah dijadikan indah sesuai dengan ajaran Islam yang memandang keindahan sebagai sifat Tuhan (al-jamil) serta mengajarkan bahwa; Tuhan mencintai keindahan.
“Aura ini akan selalu sejuk menyejukkan,
dan segar menyegarkan laksana mentari di pagi hari, laksana pancaran sinar rembulan
di malam yang penuh taburan bintang-bintang. Bagi manusia aura merupakan sarana
untuk menyadari nilai warisan masa lampau yang sangat berharga ”
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
Catatan :
Cara praktek membangkitkan aura resaka ini penulis sudah banyak sekali memberikan solusi, pelajaran dan pengarahan pada banyak orang, akan tetapi hanya sebatas kalangan anggota perguruan saja, baik anggota yang didalam negeri maupun yang diluar negeri, karena praktek cara ini adalah salah satu dari ilmu-ilmu Mahabbah (pengasihan - pemikat) dan sudah banyak dari mereka yang merasakan atau mendapatkan kemanfaatan bagi dirinya. Ilmu Mahabbah ini sendiri adalah sebenarnya suatu ilmu yang menjadi rahasia perguruan dan seluruhnya terdiri dari 99 tingkatan. Maka atas ijin Allah SWT, dan demi perikemanusiaan penulis dengan ikhlas dan ridha mewariskan cara praktek membangkitkan aura pada siapa saja yang berminat (kepada kalangan yang bukan anggota perguruan). Cara inipun akan berguna sekali bagi seseorang yang pada dasarnya mempunyai aura aktif tetapi pancarannya lemah atau kendor.
Insya Allah …..!!! Jika cara tersebut dilakukan dengan benar, dengan sepenuh hati, kesungguhan dan dengan ketekunan serta keyakinan yang kuat, Dan semoga karunia Illahi ini digunakan pada jalan yang diridhai Allah SWT.
“Bukankah dalam hidup ini lebih baik disukai dari pada tidak disukai sama sekali …? !!”
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
Selengkapnya...
Kamis, 25 September 2008
Artikel: Sujud Kepada Sang Pencipta
SUJUD KEPADA SANG PENCIPTA
ditulis oleh:
Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy'ari
Guru Besar Perguruan MK Al Mukarramah
“Katakanlah; Sesungguhnya Shalatku, Ibadatku, Hidupku dan Matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam”.(QS.6:162)
Shalatku dan Ibadahku
Bersujud menyentuh bumi (Shalat) ini di antara berbagai fungsinya, adalah untuk mengembalikan manusia dan alam kesucian primordial (al-fitrah). Saat Yang Maha Esa menghadirkan dirinya secara langsung di dalam hati manusia dan mengumandangkan sebuah simfoni abadi dalam keselarasan yang ada pada alam yang suci, sesuai firman Tuhan dalam Al-Qur'an: "Maka bersujud-lah kepada Allah, dan sembahlah Dia“. (QS.53:62).
Dengan melakukan shalat seorang muslim telah kembali ke pusat alam, bukan secara eksternal melainkan melalui hubungan bathin yang menghubungkan prinsip-prinsip dan irama-irama alam. Nabi Muhammad SAW, pertama kali menunaikan shalat di hadapan Singgasana Tuhan ('Al-Arsy) sebelum beliau mengerjakan shalat di atas tanah dan dengan penyucian kembali tanah sebagai refleksi Arsy, mengembalikan Bumi ke kondisi primordial-Nya sebagai cermin dan pantulan surga. Penyucian kembali tanah dengan tindakan sujud Nabi Muhammad SAW. itulah yang memberikan makna baru bagi tanah dan permadani yang menutupi-nya.
Yang demikian itu tidaklah dibenarkan dalam tuntunan adab shalat yang baik, karena jika hal tersebut terjadi itu berarti Ia hanya menyiapkan amal lahir dan tidak memelihara hati (bathin), padahal hati itu adalah pokok yang utama, dan seseorang itu tidak akan selamat kecuali menghadap Allah SWT dengan hati yang lurus tanpa ada kebengkokan didalamnya. seperti tersebut dalam Al-Qur'an : "Maka kecelakaan-lah bagi orang-orang yang shalat (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya"(QS. 107 : 4-5).
Mengenai masalah hati ini, Sayyidina Ali Ra, mengatakan:
Jika kita menyimak firman Tuhan dan ucapan Sayyidina Ali tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya manusia itu selalu cenderung merasa puas dengan apa-apa yang telah di kerjakan-nya, serta sudah merasa cukup dan sempurna dalam menjalankan apa-apa yang Allah SWT perintahkan kepadanya dengan tanpa berusaha ingin mengetahui dimana letak-letak kekurangannya, dan rasa inilah yang merupakan awal bagi manusia untuk tidak tergerak hatinya dalam mencari kesempurnaan ibadah kepada Allah SWT, karena ia sudah merasa sempurna dengan tata cara ibadah yang selama ini dilakukannya.
Jika mengenai urusan dunia rasa cukup itu cocok sekali, hal ini menandakan bahwa ia tidak rakus dan serakah dengan apa-apa yang di dapatkan-nya dari dunia ini untuk mencukupi kebutuhan hidup diri dan keluarganya. Akan tetapi jika untuk kebutuhan akhirat rasa cukup itu harus di buang jauh-jauh, karena akan menghambat tambahan amal-amal lainnya, dan seseorang yang tidak pernah merasa cukup dengan amal akhiratnya tidak dapat dikatakan rakus, karena ia merupakan orang yang pandai mengatur hidupnya dan berpikiran luas serta memiliki rasa kerinduan yang teramat besar untuk bertemu Tuhannya di akhirat kelak. Orang semacam inilah yang tidak akan pernah lalai dalam shalat dan ibadah-ibadah lainnya.
Hidup dan Matiku
Keutuhan Islam tidak hanya berkaitan dengan kesatuan kosmos dan apa yang ada dibalik alam kesatuan prinsip ketuhanan itu sendiri, melainkan juga dengan kesatuan hidup individual dan masyarakat yang diatur oleh hukum Illahi (Al-Syari’ah). Dengan mengintegrasikan Agama pada seluruh segi kehidupan serta memasukkan kehidupan itu sendiri kedalam irama-irama ibadah, dan tatanan nilai yang ditentukan oleh Agama.
Ketika membahas hidup dan mati, ada suatu hal yang perlu disebutkan karena begitu pentingnya dan umumnya dilupakan oleh sebagian besar manusia; Hidup adalah suatu anugerah tuhan dan sekaligus simbol dari pusat yang menghubungkan seluruh tingkat eksistensi kosmik Yang Maha Pencipta.
Hidup dan kehidupan ini, terwujud bukan semata oleh suatu akibat dari pertumbuhan berbagai unsur, melainkan merupakan tindak kreatif Tuhan yang tak dapat dipisahkan dari spirit dan bentuk ajaran Islam, yang tak mungkin ada tanpa pengaruh langsung dari keduanya. Yang suci menandai suatu pemunculan dunia yang lebih tinggi dalam hal eksistensi psikis dan material, keabadian dunia temporal.
Semua yang datang langsung dari dunia spiritual yang berada diatas dunia psikis, harus tidak disalah artikan antara keduanya; yang satu adalah Ruh (spirit), dan yang lainnya adalah Nafs (jiwa) menurut Istilah Islam adalah suci, karena berperan sebagai sarana untuk kembalinya manusia menuju spiritual dan menuju sang Pemberi Hidup bagi seluruh kehidupan aktivitas manusia. Oleh karena itu, Nafs (jiwa) menandakan adanya “keajaiban” melalui nilai spiritual dalam dunia material, yakni; dari surga ke Bumi. Ia (Nafs) merupakan sebuah gema dari Surga untuk mengingatkan manusia di bumi ini akan tempat asalnya, Surga.
Islam mampu membentuk sebuah lingkungan Islami dalam bentuk maupun isi, dengan prinsip-prinsip dan spiritual yang tertanam pada materi, yang mengelilingi manusia dalam kehidupan sehari-harinya dan mempunyai pengaruh yang sangat mendalam pada sikap, pikiran, dan jiwanya. Bagi orang yang beriman lagi mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya, maka secara lansung ia akan berhubungan dengan prinsip-prinsip spiritual dan inisiatik serta perbuatan-perbuatan yang dilakukannya akan mempunyai sesuatu subyek yang suci.
Sedangkan bagi orang yang berbuat maksiat dan sering melanggar aturan Tuhan, sedangkan ia belum pernah bertaubat, maka ia akan mengalami penyesalan yang teramat besar, disaat melewati gapura gerbang kematiannya menuju Alam Barzakh (alam kubur).
Aisyah berkata kepada Nabi SAW ;
Rasulullah SAW bersabda ;
Dan didalam salah satu hadits Nabi SAW lainnya disebutkan; bahwa Nabi bersabda ;