Rabu, 20 Februari 2008

LISAN SEORANG ULAMA SEJATI

LISAN SEORANG ULAMA SEJATI

Lisan seorang Ulama Sejati

seperti arus sungai yang bermuara

dari sumber air pegunungan

rahasia Al Qur’an

(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)

Seorang ulama sejati mampu melintasi horizon esoterisme Islam yang sangat luas dan mampu meniupkan “Ruh” baru ke dalam eksistensi material. Karena perbuatan dan tindak kreatif seorang ulama seperti itu, merupakan sesuatu yang hanya dapat dihasilkan oleh perasaan terdalam yang memungkinkan Sang Ulama masuk ke alam ruh, dan akan lebih sempurna jika seorang ulama mempunyai tingkatan kesucian yang lebih tinggi pula, yang diawali dengan kerinduan kepada Tuhan dan bergerak secara perlahan menuju penyingkapan keagungan surga, serta akhirnya mencapai peleburan (fana) dan tenggelam didalam YANG MAHA BENAR (baqa), karena hanya orang yang mencintai Tuhan yang akan dapat mengosongkan hatinya dari segala sesuatu selain Allah.

Lisan (ucapan) seorang ulama sejati melukiskan kedalaman aspek-aspek spiritual Islam. Karena kata-katanya berasal dari suatu dunia yang kekal lagi abadi, suatu dunia yang mengiringi manusia dalam perjalanannya dari keabadian melalui ekspresi universal kehidupan, dan jalan inisiatiknya dimungkinkan oleh tingginya tingkatan spiritual (maqam) sang ulama itu sendiri, yang digabungkan dengan pengetahuannya yang mendalam tentang semua tradisi Islam, sehingga dirinya bisa membedakan mana yang berupa ajaran (agama) dan mana yang berupa budaya, agar ia lebih arif dan lebih selektif dalam memutuskan segala suatu permasalahan serta konflik horizontal yang terjadi diantara sesama ummat Islam.

Mereka (para ulama) mengambil kehidupan para nabi dan wali serta episode-episode dari sejarah suci, bukan untuk menggambarkan masa lalu, melainkan untuk menerangkan suatu perjuangan spiritual yang terus berlangsung di dalam jiwa setiap orang dimanapun dan hingga kapanpun, karena mereka memiliki kepekaan yang sangat istimewa terhadap pesona spiritual yang bagi mereka merupakan keagungan Yang Maha Benar, yang selalu menjadi pintu gerbang untuk masuk ke dalam lautan rahasia Tuhan.

Melalui lisan dan ajarannya-lah seorang ulama sejati berjalan dari lingkaran luar menuju pusat yang mempersatukan pusat manusia dan pusat alam semesta yang mewujudkan jiwa didalam tubuh. Untuk mengetahui alam sifat manusia maupun wahyu, seseorang harus menembus ke dalam makna segala sesuatu, dengan esensi yang merupakan maknanya. Bagi seorang ulama sebagaimana seluruh ahli tafakur dan makrifat dengan formulasi doktrinnya, bahwa tidak ada apapun melainkan hanya Tuhan (al dzat).

Dan segala sesuatu selain-Nya

adalah simbol yang terbentang

dalam rangkaian ciptaan

(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)

Bagi para ulama, segala sesuatu merupakan simbol dunia spiritual dan dunia perwujudan yang memiliki bentuk dan makna sebagai cara lain untuk menggambarkan dua aspek karakteristik, yaitu Yang lahir (dzahir) dan Yang Batin (bathin), sebagaimana pandangan semua ahli makrifat, yang dengan jelas menyingkapkan makna yang ada didalamnya.

Seorang Ulama Sejati,

adalah satu dari sedikit orang

yang mempunyai semacam kepekaan sensual

terhadap keindahan spiritual,

ia melihat segala sesuatu tampak

sebagai bentuk transfaran

yang mencerminkan esensi abadi.

(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)

Bagi seorang ulama sejati, eksistensi keindahan benar-benar merupakan bukti langsung akan adanya Tuhan. Oleh karena itu, yang melengkapi kepekaan seorang ulama terhadap keindahan adalah kesadarannya akan kesucian dalam segala sesuatu dan kecakapan lisannya dalam memberi petunjuk sebagai solusi spiritual terhadap hampir setiap permasalahan yang dihadapi manusia dalam berbagai masa dan keadaan.

Seorang ulama sejati ditemukan banyak orang sebagai seorang penangkal penyakit yang berasal dari penderitaan dunia modern, dan bukan sebagai pembuat penyakit itu sendiri. Dia memang seorang penangkal yang sangat mujarab, yang menyediakan ajaran-ajarannya untuk diikuti, betapapun pahitnya obat yang ia tawarkan.

Kekuatan kreatif seorang Ulama Sejati,

jauh dari adanya pencekikan,

ia terbebas

dari belenggu dan keterbatasan

subyektif dirinya sendiri,

ia memperoleh suatu universalitas

dan kekuatan yang luar biasa

(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)

Ajaran-ajaran suci para ulama sejati berhubungan secara langsung dengan reaksi hati dan jiwa masyarakat muslim yang dipersiapkan untuk membentuk “Ummah Islam” untuk menyambut kesucian dan kemurnian firman Tuhan yang diungkapkan dalam Al Qur’an, oleh karena itu, kaum muslimin harus percaya kepada yang suci dan terlibat didalamnya. Kalau tidak, maka yang suci akan menyembunyikan dirinya dibelakang selubung yang tidak dapat dilalui.

Begitu pula halnya dengan para ulama sejati, ucapan dan ajaran mereka selalu mengundang reaksi dalam jiwa masyarakat Islam, karena hujjahnya selalu merefleksikan gema kitab suci dalam pikiran setiap orang yang mendengarkan dengan sepenuh penghayatan. Dan pada gilirannya gema tersebut terkenang-kenang dalam pikiran dan jiwa orang-orang yang telah menyatu dengan rasa kesucian Islam, rasa kejujuran dan kerendahan hati seorang ulama sejati.

Mereka (para ulama) memiliki suatu ketajaman penglihatan dan pendengaran intuisi yang memungkinkan pendakian (mi’raj) melalui kebenaran fenomenal yang naik ke esensi-esensi dan melodi-melodi keabadian melalui prinsip-prinsip tradisional ajarannya yang meresapkan nilai kesucian agar setiap diri dapat terbebas dari dogma dan prisma hawa nafsu yang bergejolak.

Malapetaka dalam agama apapun

yang diakibatkan oleh penghancuran ajaran

para tokoh-tokoh agamanya,

tidaklah lebih baik dari pada yang diakibatkan

oleh melemahnya ajaran-ajaran

moral dan spiritual

serta pengingkaran terhadap perintah

yang terkandung dalam hukum Tuhannya

(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)

Dengan mengintegrasikan agama pada seluruh segi kehidupan serta memasukkan kehidupan itu sendiri ke dalam irama-irama ibadah dan tatanan nilai yang ditentukan oleh agama maka hanya Islam-lah yang telah berhasil menciptakan suatu keutuhan yang harmoni, yang direfleksikan dalam ajaran kesucian dan kebudayaannya. “Barang siapa menunjuk / mengajar kebajikan maka baginya pahala seperti orang-orang yang mengerjakannya” (Al-Hadits)

Melalui penyerahan diri, pemusatan dan peleburan batin, seorang ulama sejati akan sanggup mengungkapkan hubungan-hubungan kosmik tertentu dalam menguak realitas-realitas alam metakosmik dan realitas segala sesuatu yang meninggalkan jejak pada semua makhluk dengan pancaran sumber samawi eksistensinya.

Ia dapat memasuki hubungan dengan makhluk-makhluk dan mukjizat-mukjizat yang berasal dari eksistensi universal untuk menuntun manusia kembali kekediaman Yang Esa, sebagai pengejawantahan yang dapat dilihat dari firman ilahi, untuk membantu orang Islam menembus ke dalam dan ditembusi kehadiran ilahi yang sesuai dengan kapasitas spiritual setiap orang.

Dari dalam jiwa seorang ulama sejati, dapat ditemukan ketenangan hati, sifat pemaaf, kekayaan batin, kesabaran yang tinggi, jauh dari rasa iri dan dengki terhadap kemajuan serta kemakmuran orang lain. Dengan kata lain, bahwa jiwa seorang ulama akan sangat menentukan pula perjalanan panjang para kaum muslimin.

Para ulama sejati adalah pewaris Nabi SAW, sedangkan jiwa Nabi Muhammad SAW itu sendiri adalah sebuah sumber ghaib bagi seluruh spiritualitas Islam. Banyak dari mereka (para ulama sejati) yang juga secara intim berteman dengan para ahli politik, semoga saja bukan dalam ketundukannya kepada kekuasaan duniawi serta kemegahannya atau dalam menyusun tulisan-tulisan dan pidato-pidato yang berisi sanjungan kepada yang berkuasa, akan tetapi hubungan intim dalam pertemanan mereka dengan para penguasa akan selalu memberikan petunjuk dan teladan spiritual kepada para pemegang kekuasaan.

Hubungan itu sendiri akan cukup untuk mereduksi kelemahan dan hujatan serta argumen-argumen yang menganggap seorang ulama sejati telah menjual agamanya demi keuntungan duniawi. Memang dalam hal ini tidak dapat dipungkiri, bahwa banyak sekali oknum dari para kaum muslim yang mengklaim dirinya sebagai seorang ulama, akan tetapi tidak memiliki pengetahuan banyak yang disesuaikan dengan predikatnya sebagai ulama, yakni orang yang berilmu (berpengetahuan). Seperti tersebut didalam Al Qur’an :

Artinya;

“...........Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 58 : 11)

Nabi SAW bersabda; ”Menuntut ilmu itu merupakan kewajiban yang dipikulkan kepada pundak setiap individu ummat Islam baik perempuan maupun laki-laki ” (HR Muslim)

Seorang ulama sejati yang membawa ajarannya dalam dunia Islam akan tampak mewujud dalam taraf fisik yang secara langsung dapat dipahami oleh pikiran yang sehat, dan seandainya-pun hal itu terjadi seperti tersebut diatas, maka janganlah menyalahkan predikat ulamanya, akan tetapi itu hanyalah individunya saja yang mendompleng dibalik selubung predikat ulama. Realitas-realitas dasar ajaran dan perbuatan-perbuatannya, adalah merupakan sebagai tangga bagi pendakian jiwanya dari tingkat yang dapat dilihat dan didengar menuju ke YANG MAHA GAIB.

Berbagai aspek esensial dari agama dan kehidupan spiritual seorang ulama sejati dimungkinkan oleh tingginya tingkatan spiritual (maqam) ulama itu sendiri yang digabungkan dengan pengetahuan tentang tradisi Islam sebagai ekspresi universal kehidupan, yaitu antara penyajian kebenaran obyektif dengan presentasi subyektif serta aspek-aspek operatif yang menyangkut proses pencapaian kebenaran antara doktrin dan pandangan inisiatiknya, yang secara langsung meliputi seluruh eksistensi manusia dan berbagai persoalan serta rintangan-rintangan dalam pencariannya terhadap YANG MAHA BENAR.

Penampakkan adalah perwujudan sesuatu dengan esensi yang merupakan maknanya. Dan tiada yang pernah dapat mengetahui secara pasti apakah seseorang hanya berada pada tingkat bentuk (shurah) dan melupakan maknanya (ma’na).

Makna dari suatu bentuk menyiratkan

Sebuah pencarian yang bermula dari sesuatu

yang membingungkan jiwa menuju pusat

yang berkilauan

(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)

Maka yang membuat perbedaan antara bentuk dengan makna, seorang ulama sejati telah menawarkan sebuah interpretasi “hermeneutik” mengenai seluruh realitas, baik Al Qur’an kosmik (Al qur’an al takwini), maupun Al Qur’an tertulis (Al Qur’an al Tadwini), yang menyingkapkan kesatuan transenden antara makhluk dan agama melalui kerinduan kepada Tuhan dan bergerak secara perlahan menuju penyingkapan keagungan surga.

Oleh karena itu, seorang ulama sejati adalah orang yang memiliki kemampuan dalam menguraikan secara terinci tentang kebenaran dengan mengembalikan hampir segala sesuatu dari tindakan seluruh manusia atau makhluk kepada pesan-pesan yang sangat luhur dari Al Qur’an.

Kemampuan lisan ulama sejati,

menyiratkan keselarasan dan kedamaian

yang sejuk menyejukan bagi siapapun

yang mendengarkannya,

karena suara dari lisannya

akan mengalir seperti arus sungai yang bermuara

dari sumber air pegunugan rahasia Al Qur’an

(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)

Dengan bantuan doktrin dan metode spiritual, manusia mampu memahami siapa dirinya, dengan meninggalkan apa saja yang menyesatkan untuk mengetahui hakikat dirinya.

Ajaran dan nasihat-nasihat yang keluar dari lisan seorang ulama sejati akan mampu membawa manusia meraih ketenteraman dan kedamaian yang tersembunyi dipusat wujudnya dan pencapaiannya dapat dilakukan setiap orang pada setiap kesempatan. Disinilah sejatinya seorang ulama dalam mengemban amanah dan ajaran Rasuulullah SAW untuk menyebarluaskan ilmunya (pengetahuannya) kepada seluruh kaum muslim, dengan tanpa adanya diskriminasi (perbedaan) antara satu ulama dengan ulama lainnya, agar seluruh ummat Islam memiliki acuan yang layak untuk mereka jalani dan fahami, karena sudah banyak contoh, seperti halnya dengan awal puasa di bulan suci ramadhan, perayaan idul fithri dan lain sebagainya. Seharusnya ketidakseragaman ini tidak perlu terjadi.

Seorang ulama sejati

akan dapat membebaskan manusia

dari prahara yang menghancurkan

dalam kehidupan ini

dan dari keriuhan dunia eksternal,

tanpa perlu meninggalkan dunia itu sendiri

(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)

BEBERAPA TINGKATAN ULAMA SEJATI

Dalam dunia transenden, jiwa manusia bekerja sama dengan tubuh duniawi melalui suatu mukjizat, yang rahasianya hanya dapat diketahui oleh Tuhan sehingga mewujudkan kehidupannya didunia yang lebih rendah. Meski demikian, jiwa akan selalu mengenang asal kediaman tanah air sejatinya, sungguhpun terbatas pada dunia material.

Dalam dunia transenden jiwa manusia melakukan pendakian melewati rintangan kezuhudan dan disiplin spiritual, yang tingkatan pertamanya “sayr wa suluk” (perjalanan spiritual) dari seorang ulama. Walaupun ada berbagai cara penggambaran dan penjelasan tentang jalan menuju persatuan dengan Tuhan YANG MAHA ESA, yang semuanya dapat diringkas dalam tiga tingkatan ulama yang utama.

Tingkat pertama adalah “Qabdh Latha’if” (penyusutan dalam esensi lembut-halus). Dalam tingkatan ini, aspek tertentu dari jiwa seorang ulama akan berhubungan dengan kezuhudan dan kesalehan serta manifestasi teofani dari nama-nama Tuhan Yang Maha Lembut dan Maha Halus. Pada tingkatan inilah di dalam diri seorang ulama akan ditemukan sifat yang lemah lembut berlandaskan kasih sayang dan kebajikan yang luhur, sehingga dirinya tidak pernah melakukan fitnah keji kepada kaum muslim lainnya.

Tingkatan “Qabdh Latha’if” (penyusutan dalam esensi lembut-halus) merupakan perjuangan spiritual (mujahadah) yang mendefinisikan berbagai kelembutan dan kehalusan dalam diri ulama, dalam diri kaum arif dan pecinta Allah. Bagi seorang ulama dalam tingkatan ini, ia melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, sehingga mukjizat yang berada dalam tubuh akan terungkap meski hanya sekejap dan memungkinkan burung jiwa dapat membentangkan sayapnya dan terbang ke dunia spiritual yang sangat luas tiada batasannya dan menikmati alunan simfoni keabadian serta ekstase yang merupakan aspek esensi dari dunia ini.

Seorang ulama sejati yang sudah

mencapai tingkatan Qabdh Latha’if ini,

tentunya tidak memerlukan tunggangan atau sarana apapun, karena dia sendiri memiliki daya untuk terbang menuju dunia transenden melalui rahasia perjanjian primordial

antara manusia dan Tuhan

(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)

Tingkatan kedua adalah “Basth Kasyf Imani” (perluasan penyingkapan melalui keimanan). Dalam tingkatan ini, aspek dari jiwa ulama mendapat keluasan dan diperluas. Sehingga eksistensinya melampaui batasan dirinya sendiri hingga dia memeluk seluruh alam semesta melalui ketulusan iman.

Kadar intesitas tingkatan Basth Kasyf Imani ini dapat berfungsi sebagai katalisator yang mengaktifkan sang ulama untuk lebih banyak lagi mencari ilmu (pengetahuan) yang berkaitan dengan segala maujud dalam kosmos sewaktu ia berada dalam ekstase (wajd) dibawah pengaruh kuat suatu keadaan spiritual (hal), sehingga tubuh jasmaninya akan tampak meluruh seperti debu primordial (al habah). Dan menyatu dengan lingkungan alam sekelilingnya.

Maka inilah kebenaran

bagi hati manusia yang sederhana,

yang bebas dari rasa keakuan, keserakahan

dan dari berbagai cinta serta gairah

yang dapat mempengaruhinya

(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)

Namun apabila ia tidak terbebas dari hal-hal itu, dan ia terisi sesuatu selain Allah dihatinya, maka sesuatu itu akan bergerak dan berpengaruh sebagaimana api yang kian berkobar.

Ulama dalam tingkatan Basth Kasyf Imani” ini adalah manusia yang sudah terlepas dari jurang dunia material yang sangat dalam dan telah berhasil dalam penyempurnaan jiwanya sebagai penakluk nafsu-nafsu hewani“, sehingga dirinya akan terbebas dari rasa keakuan yang ingin selalu dihormati oleh semua orang, dengan tanpa memperhatikan cacat bathin yang mengeram didalam hatinya.

Tingkatan ketiga adalah; “Wishalbi al-haqq” (persatuan dengan YANG MAHA BENAR). Dalam tingkatan ini, seorang ulama harus melalui pencapaian tingkat peleburan (fana) dan kekekalan (baqa). Karena pada tingkatan ini, dirinya telah dapat melewati seluruh maqamat (tingkatan) lainnya dan dia dapat merenungkan wajah sang kekasih (Allah SWT).

Penampakkan luarnya yang sedih

tak lain merupakan prawacana

untuk ketakterlukiskan kebahagiaan

yang tersembunyi didalamnya

(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)

Seorang ulama dalam tingkatan ini, akan menyerahkan dirinya kepada kehendak Tuhan, menempatkan diri sepenuhnya dalam genggaman Tuhan. Dan menjadi sumber gita-gita yang menebarkan kegembiraan dan kebahagiaan serta menuntun orang lain ke tempat primordial dan kediaman akhirnya, agar dapat membebaskan dirinya dari nafsu keinginan yang tanpa batas itu.

Dirinya bagaikan

sebuah tempat perlindungan diantara badai

yang mengerikan dan oase yang menyejukkan

di tengah-tengah tandusnya gurun pasir

serta dapat dijadikan sebagai mata air

yang penuh barakah untuk menghilangkan

kebingungan dan kehausan jiwa

(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)

Maka pada tingkatan yang terakhir inilah, seorang ulama akan mampu menguak selubung keterpisahan eksistensi dan bersatu dengan asal serta sifat primordialnya melalui penyerahan kemauannya sendiri kepada kehendak Tuhan dan menempatkan diri sepenuhnya dalam genggaman Tuhan.

Ulama dalam tingkatan ini akan selalu menyatukan visi antar sesama ulama lainnya agar bersinergi dalam membentuk ummah yang penuh dedikasi tinggi dan menjalin tali persatuan sesama ummat Islam dengan berlandaskan keilmuan (pengetahuan), Sehingga dirinya akan dipersatukan dengan getaran kehidupan alam (mikrokosmos bersatu dengan makrokosmos) yang didalam diri seseorang selalu ada dalam bentuk getaran hati, sehingga jiwanya mengalami perluasan dan mencapai kebahagiaan dan ekstrase yang melingkupi dunia. Sehingga dirinya akan terbebaskan dari belenggu diri yang membatasi penilaiannya terhadap sesuatu hal. Dalam tingkatan inilah seorang ulama akan bersikap obyektif dan tidak terlalu kukuh dengan faham yang dimilikinya ketika melihat seseorang atau suatu kelompok memiliki perbedaan faham dengan dirinya.

Bagi kaum muslim,

mereka (ulama sejati) adalah sarana potensial untuk menyadari nilai warisan masa lampau dari Muhammad Rasuulullah SAW

yang sangat berharga

(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)

Lisan mereka (para ulama sejati) memiliki sifat realitas batin yang pasti meninggalkan pengaruh pada jiwa pendengarnya. Karena segala ucapan mereka itu merupakan nyanyian abadi dalam dunia, ruang dan waktu, karena segala ucapannya telah terbebas dari rasa kebencian dan kecurigaan yang berlebihan terhadap sesama ummat Islam. Bahkan para ulama sejati telah menjauhkan diri mereka dari para penguasa yang hendak memanfaatkannya.

Nabi SAW bersabda; “Seburuk-buruknya ulama adalah ulama yang mengunjungi penguasa. Dan sebaik-baiknya penguasa adalah, pengusaha yang mengunjungi ulama.” (HR Muslim)

Mereka tidaklah mengalami

proses kemunduran atau perubahan,

mereka selalu sejuk menyejukkan

dalam ucapan maupun ajarannya,

laksana kilau mentari pagi

dipermukaan air yang jernih

(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)

Catatan :

Mengenai kriteria tingkatan para ulama yang telah saya sebutkan diatas adalah; mereka yang hidup dijaman para sahabat, tabi’ien dan tabi’ien tabi’iet. Dan semoga ulama-ulama kita sekarang ini termasuk dalam salah satu kriteria tingkatan ulama sejati tersebut diatas. Insya Allah ….. !!!.

4 komentar:

ferly mengatakan...

Maha Besar ALLAH, telah menurunkan dan mengungkapkan sebuah ilmu kepada Beliau "al-mukarom Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy'ari" guru besar MK al-mukarramah, yang pada akhirnya bagi saya sendiri terungkap sebuah kebenaran sebuah ilmu yang sebenarnya bisa kita mengerti dan rasakan secara realitis dalam jiwa dan pikiran.
membaca artikel beliau benar-benar membuat saya tidak kuasa untuk menahan air mata karena begitu menyentuh jiwa.ini bukan bentuk pujian yang saya berikan tetapi kekaguman saya terhadap isi tulisan beliau yang begitu menyentuh jiwa.perasaan hati yang benar2 saya rasakan saat ini. Semoga beliau selalu dilimpahkan berkah, amien.

oli mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
oli mengatakan...

subhanallah,
jadi pengen kaya abah nee....

Unknown mengatakan...

izin print out..